What You See What You Get

(^^) WELCOME TO ZANIZONE BLOG (^^) please follow my twitter @Sani_Interisti (^^) and add my facebook "Sani Kurniawan" (^^)

Senin, 24 Januari 2011

Lalu Lintas Pembayaran Internasional

Sistem Moneter Internasional





Pendahuluan
Interdependensi perekonomian dunia membuat setiap perubahan kurs riil suatu negara mempengaruhi perubahan yang sebaliknya pada kurs riil negara lain. Hal ini menyulitkan pembuat kebijakan untuk mencapai stabilitas harga dan tingkat kesempatan kerja penuh (full employment). Interdependensi itu sendiri ternyata ditentukan oleh pengaturan moneter dan kurs yang dipakai oleh banyak negara, yang sering disebut Sistem Moneter Internasional.
Sistem Moneter Internasional dapat didefinisikan sebagai struktur, instrumen, institusi, dan perjanjian yang menentukan kurs atau nilai berbagai mata uang di dunia. Termasuk juga penyesuaian aliran modal dan perdagangan internasional, dan neraca pembayaran (Eitmen et. Al., 1995, hal. 26).
Dalam bab ini akan dibahas tentang pengertian kurs valuta asing, macam-macam alternatif sistem kurs mata uang, sejarah perkembangan Sistem Moneter Internasional, Sistem Mmoneter Eropa, dan sekilas tentang Eurocurrencies.

Pengertian Kurs Valuta Asing
Kurs valuta asing adalah harga mata uang suatu negara dalam unit komoditas (seperti emas dan perak) atau mata uang negara lain. Apabila pemerintah suatu negara mengatur nilai tukar mata uangnya, maka diklasifikasikan sebagai sistem kurs tetap (fixed exchange rate). Sedangkan jika besarnya nilai tukar diserahkan kepada mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah, diklasifikasikan sebagai sistem kurs mengambang (floating exchange rate). Penjelasan tentang berbagai klasifikasi sistem kurs yang dianut akan dibahas pada bagian selanjutnya dalam bab ini.
Suatu mata uang dikatakan konvertibel (convertible currency) apabila mata uang tersebut bisa dipertukarkan secara bebas dengan mata uang negara lain (Krugman dan Obstfeld, 1994, hal. 537). Tidak adanya mata uang yang konvertibel akan menyulitkan perdagangan antar negara, karena masing-masing tidak akan mau menerima mata uang mitra dagangnya. Dalam keadaan seperti ini yang terjadi adalah perdagangan barter, yaitu menukar barang secara langsung. Tetapi, jika mata uang semua negara konvertibel maka perdagangan multinasional yang terjadi akan lebih efektif. Kerena itu, Dana Moneter Internasional (IMF) meminta negara anggotanya untuk mengusahakan mata uangnya konvertibel selekas mungkin.
Mata uang negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Jepang sudah merupakan mata uang yang konvertibel, terlebih lagi dolar Amerika Serikat sehingga setiap negara mau menerima US$ dalam perdagangan internasional yang mereka lakukan. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena Amerika Serikat merupakan negara maju yang perekonomiannya sangat mantap sejak pasca perang Dunia II. Selain itu, dolar sangat atraktif bagi para eksportir dan importir karena dapat dipergunakan untuk membeli produk-produk yang dihasilkan Amerika Serikat yang pada saat itu sangat diperlukan oleh negara-negara yang mengalami kerusakan akibat perang.
Dalam mempelajari sistem moneter internasional, khususnya tentang perubahan kurs mata uang, ada beberapa istilah yang perlu diketahui, seperti devaluasi, depresiasi, soft dan hard currency. Devaluasi secara semantik dan sempit dapat diartikan sebagai turunnya nilai mata uang suatu negara yang menggunakan sistem kurs tertambat (pegged) atau sistem kurs tetap terhadap nilai mata uang negara lain. Kebalikan dari devaluasi adalah revaluasi.
Depresiasi mengacu pada turunnya nilai mata uang negara yang menggunakan sistem kurs mengambang terhadap mata uang negara lain. Kebalikan depresiasi adalah apresiasi. Suatu mata uang disebut soft currency apabila mata uang tersebut diharapkan mengalami devaluasi atau depresiasi terhadap sebagian mata uang di dunia sehingga tidak secara luas diterima negara-negara yang melakukan perdagangan internasional. Hard Currency adalah mata uang yang diharapkan mengalami ravaluasi atau apresiasi relatif terhadap sebagian besar mata uang dunia. Mata uang jenis ini diterima secara luas sebagai bukti pembayaran internasional.


Macam-macam Alternatif Sistem Kurs Mata Uang

Sistem kurs mata uang secara ekstrem dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sistem kurs mengambang bebas (freely floating rate) dan sistem kurs tetap (fixed rate). Diantara kedua sistem ekstrem ini terdapat beberapa sistem kurs lain yang merupakan pengembangan dari kedua sistem tersebut, yaitu sistem kurs mengambang terkendali (managed float), sistem kurs dengan peraturan zona target (target-zone arrangement), sistem kurs tertambat (pegged), sistem kurs tertambat merangkak (crawling pegged), dan sistem kurs tertambat pada sekeranjang mata uang (pegged to a basket of currencies). Tabel 2.1 menyajikan sistem kurs yang digunakan oleh negara-negara di dunia.

Sistem Kurs Mengambang Bebas
Dalam sistem kurs mengambang bebas, tingkat kurs sepenuhnya ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran mata uang, tanpa adanya campur tangan pemerintah. Fluktuasi volume permintaan dan penawaran mata uang dipengaruhi oleh perubahan pada sejumlah parameter ekonomi, misalnya: perubahan tingkat harga, perbedaan suku bunga, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat pendapatan, dan lain-lain. Adanya perubahan pada salah satu parameter ekonomi akan menyebabkan perubahan kurs melalui penyesuaian pasar. Sistem ini sering pula disebut sistem kurs mengambang bersih/murni (clear/pure floating rates).
Kelebihan dari sistem kurs mengambang bebas adalah mampu menyesuaikan nilai tukar mata uang terhadap perubahan kondisi perekonomian dengan cepat sehingga nilai tukar mencerminkan nilai yang wajar atau sesungguhnya. Misalkan laju inflasi di negara asing tiba-tiba melonjak naik secara drastis sementara laju inflasi di dalam negara relatif stabil. Akibatnya harga barang dari negara asing akan naik. Kondisi ini akan menurunkan permintaan terhadap barang asing dan sebaliknya akan menaikkan permintaan terhadap barang domestik. Akibatnya, nilai mata uang domestik akan naik terhadap mata uang negara asing yang menyebabkan daya saing barang domestik di pasar ekspor akan menurun karena di luar negeri harganya men- jadi mahal. Keadaan ini akan mengurangi tekanan terhadap tingkat kesempatan kerja dan laju inflasi di negara asing, karena konsumen di negara asing akan tetap bersedia membeli barang lokal karena harga barang impor mengalami kenaikan . Sebaliknya, konsumen dalam negeri tetap bersedia membeli barang dari negara asing karena harga barang dari negara asing menjadi lebih murah. Mekanisme pasar ini akan bekerja secara otomatis sampai terciptanya kondisi keseimbangan yang baru.
Kelemahan utama dari sistem ini justru terletak pada aspek yang membuat mekanisme pasar dapat bekerja secara optimal. Karena kurs dapat berubah secara bebas tanpa ada intervensi dari otoritas moneter, maka hal ini sering kali menyulitkan pemerintah maupun pengusaha dalam membuat perencanaan atau perhitungan bisnis. Sebagai contoh, seorang eksportir yang menunggu pencarian letter of credit 90 hari yang akan datang tidak akan dapat menentukan secara tepat berapa uang yang akan diperoleh, jika valuta asing yang diterima diubah menjadi mata uang domestik. Penerapan sistem kurs mengambang bebas jelas akan meningkatkan ketidakpastian. Dalam kondisi ini, instrumen-instrumen keuangan untuk melakukan upaya-upaya pemagaran resiko mutlak perlu dikembangkan.

Sistem Kurs Tetap
Dalam sistem kurs tetap, seperti Bretton Wood, pemerintah menjaga nilai mata uang pada tingkat yang telah ditetapkan dengan membeli atau menjual valuta asing dalam jumlah yang tidak terbatas. Apabila nilai mata uang resmi yang telah ditetap- kan tidak dapat dipertahankan lagi, maka pemerintah akan menetapkan nilai mata uang baru dan mengumumkannya. Devaluasi dan revaluasi mata uang merupakan alternatif terakhir yang akan diambil, yaitu saat transaksi berjalan mengalami defisit atau surplus terus menerus.
Secara umum, ada empat alternatif kebijakan yang akan diambil pemerintah sebelum melakukan devaluasi atau revaluasi, yakni membiayai defisit transaksi ber- jalan melalui pinjaman luar negeri, pengetatan anggaran belanja negara, pengendali- an harga dan upah, dan pengendalian kurs.
Pembiayaan dengan pinjaman luar negeri merupakan solusi yang sementara bagi defisit transaksi berjalan yang berkepanjangan. Dana asing, apalagi yang ber- jangka pendek, sangat mudah masuk dan keluar dari suatu negara. Jadi, apabila suatu negara dianggap tidak menarik lagi karena return yang diterima dari investasi di negara tersebut kecil atau karena negara tersebut dianggap tidak akan mampu mem- bayar angsuran pinjaman beserta bunganya, pemilik modal akan menarik modalnya ke negara lain yang lebih menarik. Sebagai contoh, Meksiko membiayai defisit besar pada transaksi berjalan dengan pinjaman luar negeri selama akhir 1970-an. Namun, tahun 1982, investor mulai menarik dananya dari Meksiko karena menganggap negara ini tidak mampu membayar kembali utang-utangnya. Akibatnya peso mengalami penurunan tajam karena devaluasi yang besar.
Pengetatan angaran belanja negara dilakukan dengan kombinasi antara pengurangan pengeluaran pemerintah dan peningkatan pajak. Jika pengetatan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, pendapatan nasional akan turun, dan bisa menurunkam impor. Apabila ekspor diasumsikan tetap, maka defisit neraca perdagangan dapat dikurangi.
Sistem Kurs tetap jika dapat dipertahankan akan sangat menarik, khususnya bagi perusahaan yang melakukan bisnis internasional karena dapat mengurangi risiko nilai tukar. Sebagai contoh, eksportir yang menerima usance letter of credit 90 hari akan dapat menentukan dengan pasti berapa uang yang akan diterima jika valuta asing ditukarkan dengan mata uang domestik.
Sistem kurs tetap mempunyai dua kelemahan utama. Pertama, nilai tukar sering kali tidak mencerminkan nilai yang sesungguhnya dari suatu mata uang karena otoritas moneter selalu menjaga stabilitas kurs pada tingkat yang diinginkan.Kondisi ini akan menciptakan hubungan langsung antara laju inflasi dan kesempatan kerja di antara negara yang melakukan perdagangan internasional. Seperti contoh di atas, harga barang asing di luar negeri akan menjadi terlalu mahal, sementara harga barang dalam negeri di luar negeri tidak mengalami perubahan. Akibatnya, konsumen dalam negeri akan lebih suka membeli produk lokal dan konsumen luar negeri akan lebih suka membeli barang impor. Akibatnya, tingkat pengangguran di negara asing akan meningkat karena banyak perusahaan yang mengurangi volume usaha. Sebaliknya, di dalam negeri akan terjadi penciptaan lapangan kerja baru karena volume produksi perusahaan mengalami peningkatan.
Kedua, jika pelaku pasar (khususnya spekulan valuta asing) menilai nilai tukar suatu mata uang terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka mata uang tersebut akan mendapat tekanan jual atau beli yang sangat besar. Apabila tekanan itu sangat besar, pemerintah akan menemui kesulitan dalam mempertahankan nilai tukar mata uang. Jika pemerintah tetap bersikeras hendak mempertahankan nilai tukar mata uangnya, maka upaya ini akan dapat menguras cadangan devisa.

Sistem Kurs Mengambang Terkendali
Sistem kurs mengambang bebas menyebabkan ketidakpastian dan fluktuasi kurs yang tinggi. Karena itu banyak negara khawatir sistem mengambang bebas akan menyebabkan ketidakstabilan perekonomian dalam negeri. Mereka takut ekspor akan menurun drastis jika mata uang mengalami apresiasi dan akan terjadi inflasi yang tinggi jika terjadi depresiasi.
Untuk mengurangi fluktuasi kurs dan tidak stabilnya perekonomian, banyak negara yang menganut sistem mengambang melakukan intervensi via bank sentral untuk mengurangi fluktuasi kurs. Intervensi bank sentral dapat berupa mengurangi fluktuasi harian (smoothing out daily fluktuations), “cenderung melawan angin” (learning againts the wind), dan terlambat tak resmi (unofficial pegging). Sistem mengambang terkendali ini sering pula disebut dirty float.
Dalam kebijakan pengurangan fluktuasi harian, pemerintah mencoba mempersempit fluktuasi kurs melalui pasar dengan menjual atau membeli mata uang domestik. Apabila diperkirakan akan terjadi apresiasi, pemerintah akan menjual mata uang domestik di pasar uang. Demikian pula jika diperkirakan akan terjadi depresiasi, pemerintah akan membeli mata uang domestik.
“Learning againts the wind” digunakan pemerintah untuk mencegah fluktuasi besar dalam jangka pendek dan jangka menengah agar tercipta kestabilan ekonomi bagi para eksportir dan importir. Sedangkan unofficial pegging digunakan untuk mengubah kurs tanpa melalui mekanisme pasar. Sebagai contoh, Jepang pernah menghambat ravaluasi yen karena takut akan menurunkan ekspor, Kebijakan ini tidak cocok untuk negara yang menganut sistem kurs tetap.
Pengaturan Zona Target
Banyak ahli ekonomi dan pembuat kebijakan berpendapat bahwa negara-negara industri dapat meminimalkan perubahan kurs dan meningkatkan stabilitas ekonomi jika Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang menggabungkan mata uang mereka ke dalam sistem zona target. Negara-negara industri menyesuaikan kebijakan ekonomi mereka untuk menentukan tingkat kurs dengan margin tertentu, di atas atau di bawah nilai mata uang gabungan. Sistem seperti ini telah digunakan oleh negara-negara eropa dalam sebuah wadah yang dinamakan Sistem Moneter Eropa (EMS). Pengaturan zona target juga sering disebut joint float.

Sistem Kurs Tertambat
Apabila suatu negara menetapkan nilai mata uangnya berdasarkan nilai mata uang satu atau sekelompok negara, maka negara tersebut menganut sistem kurs tertambat. Besarnya nilai mata uang bergerak mengikuti perubahan nilai mata uang negara yang ditambahnya.
Kurang lebih 50 negara yang menganut sistem kurs ini, sebagai contoh, menjadikan US$ sebagai dasar bagi penentuan mata uang 24 negara, dari chintzy Angola sampai rial yang digunakan oleh Republik Yaman. Franc Perancis dijadikan dasar penentuan nilai mata uang oleh 14 negara Afrika berkas jajahan Perancis. Enam negara baru yang memisahkan diri dari Uni Soviet menambatkan mata uang mereka pada ruble Rusia. Dan enam negara lainnya menambatkan mata uang mereka pada mitra dagang utama.

Sistem Kurs Tertambat Merangkak
Dalam sistem ini, suatu negara menetapkan nilai mata uang dikaitkan dengan nilai mata uang negara lain. Tetapi dalam jangka waktu tertentu, nilai mata uang negara tersebut berubah sedikit demi sedikit, mencapai tingkat tertentu.

Sistem Kurs Tertambat Pada sekeranjang Mata Uang
Sekitar 34 negara menambatkan mata uang mereka pada sekeranjang mata uang yang berisi kumpulan mata uang negara mitra dagang utama. Nilai sekeranjang mata uang lebih stabil dibandingkan nilai mata uang satu negara. Besarnya persentase nilai mata uang yang dimasukkan dalam keranjang dihitung dari bobot relatif peran masing-masing negara terhadap negara bersangkutan. 29 negara dari 34 negara yang menganut sistem ini menambatkan mata uang mereka pada sekeranjang mata uang mitra dagang utama. Lima negara lainnya menambatkan pada Special Drawing Rights (SDR).
Sejarah Perkembangan Sistem Moneter Internasional

Sistem moneter internasional dimulai dari tahun 1821, saat diberlakukannya standar emas (gold standard). Namun, ada beberapa ahli ekonomi yang menganggap bahwa sistem moneter internasional baru dimulai pada tahun 1876 (Eitman, 1995, hal. 28) atau tahun 1880 (Dunn dan Ingram, 1996, hal. 432).
Sebenarnya, ketiga pendapat tersebut semuanya benar. Pada tahun 1821, saat terjadinya perang Napoleon (Napoleon War), Inggris menerapkan standar emas. Tahun 1876 standar emas diterima sebagai sistem moneter di Eropa Barat. Baru kemudian pada tahun 1880 semua negara industri menerima sistem standar emas. Jadi, kalau dilihat secara historis, sistem moneter internasional dimulai pada tahun 1821. Secara kronologis, perkembangan sistem moneter internasional dapat dilihat pada gambar 2.1.

Standar Emas, 1821-1914
Kira-kira 3000 tahun sebelum masehi, emas telah digunakan sebagai alat pertukaran dan penyimpan nilai. Bangsa Romawi dan Yunani menggunakan koin emas dan meneruskan tradisi tersebut sampai pada zaman merkantilisme, abad ke-19. Meningkatnya perdagangan antar negara selama periode perdagangan bebas pada akhir abad ke-19, mendorong timbulnya kebutuhan akan sistem yang lebih formal untuk menentukan neraca perdagangan internasional.

Standar Perang Perang Bretton
emas Dunia I Dunia I Wood


1821 1914 1918 1940 1945 1971 sekarang

sistem kurs
mengambang
periode antar perang dunia
1919-1925 periode kurs fluktuasi
1925-1931 standar kurs emas
1931-1940 nasionalisme moneter

Gambar 2.1 Sketsa Kronologis: Sistem Moneter Internasional, 1821 – sekarang.

Pada tahun 1821, bersamaan dengan perang Napoleon dan inflasi di eropa Barat, Inggris kembali ke sistem standar emas. Dari tahun 1821 sampai 1880, banyak negara kemudian menggunakan standar emas. Dan tahun 1880, sebagian besar negara di dunia telah menggunakan sistem standar emas, termasuk Amerika Serikat. Periode dari tahun 1880 sampai 1914 tercatat dalam sejarah dunia sebagai sistem standar emas klasik. Periode ini ditandai oleh meningkatnya perdagangan bebas internasional, stabilitas kurs dan harga, perpindahan tenaga kerja dan modal yang semakin besar antar negara, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan meningkatnya perdamaian dunia.
Cara penentuan nilai suatu mata uang dengan standar emas relatif sederhana dan jelas. Nilai mata uang suatu negara akan ditentukan oleh beberapa nilai uang dari setiap satuan berat emas tertentu. Sebagai contoh, Amerika Serikat mengumumkan bahwa 1 ons emas dapat dibeli dengan US$ 20.67. Sementara itu, Inggris mematok pada tingkat 4.2474/ons. Dengan demikian, kurs dolar/pound adalah:


US420.67 / ons
£ 4.2474/ons = US$4.86656/£
Perkembangan selanjutnya dari era standar emas adalah disetujuinya nilai paritas antar mata uang, yang bersifat tetap. Nilai paritas tersebut berlaku untuk pembelian dan penjualan suatu mata uang. Cara ini ditempuh untuk menciptakan mekanisme yang mampu mempertahankan nilai mata uang dalam satuan emas, dan karena itu tingkat paritas antar negara dapat dipertahankan. Dalam sistem ini, suatu negara harus memiliki cadangan emas yang cukup untuk menjamin nilai mata uangnya. Sistem ini secara tidak langsung telah membatasi penambahan jumlah uang beredar di masing-masing negara karena setiap penambahan jumlah uang beredar harus disertai dengan penambahan cadangan emas.
Standar emas dapat berfungsi secara efektif sebelum pecahnya perang dunia I. Saat perang dunia I terjadi, pergerakan emas antar negara dan perdagangan internasional menjadi terhambat Hal ini mendorong negara-negara industri utama dunia untuk mulai memikirkan sistem moneter lain di luar standar emas.

Periode Antar Perang Dunia, 1918-1940
Selama perang dunia I dan awal 1920-an, nilai mata uang disepakati dapat berfluktuasi sampai batas yang wajar. Secara teoritis diharapkan permintaan dan penawaran terhadap ekspor dan impor suatu negara akan memberikan perubahan yang moderat terhadap nilai mata uangnya. Dalam kenyataannya, harapan yang ada di benak pengambil keputusan ternyata tidak terwujud. Adanya ketidakstabilan situasi politik dan ekonomi menimbulkan perubahan yang sangat besar pada nilai mata uang suatu negara yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi perekonomian secara riil. Periode ini oleh Dunn dan Ingram (1996, hal 446) disebut sebagai episode kurs yang berfluktuasi.
Karena alasan-alasan tersebut, beberapa usaha telah ditempuh untuk kembali ke sistem standar emas. Amerika Serikat kembali ke standar emas pada 1919, Inggris 1925, dan Perancis 1928. Nilai poundsterling pada April 1925 kembali menjadi US$ 4.86656/£ (paritas sebelum perang), sehingga menyebabkan meningkatnya pengangguran dan stagnasi ekonomi di Inggris.
Masalah yang dihadapi negara-negara yang ingin kembali ke standar emas adalah penentuan nilai paritas baru yang stabil untuk emas. Masalah ini belum sempat dipecahkan secara tuntas, sampai bangkrutnya sistem perbankan Austria pada 1931, yang menyebabkan sebagian besar negara yang melakukan perdagangan internasional membatalkan niat mereka untuk kembali ke sistem standar emas.

Amerika Serikat kembali ke standar emas yang dimodifikasi pada tahun 1934, ketika diumumkan bahwa US$ didevaluasi menjadi US$ 35/ons emas, yang sebelumnya US$ 20.67/ons emas. Meskipun Amerika Serikat kembali ke standar emas, emas hanya diperdagangkan dengan bank sentral luar negeri. Dari 1934 sampai akhir perang dunia II, nilai tukar mata uang secara teoritis ditentukan oleh nilai masing-masing mata uang terhadap emas. Selama perang dunia II dan masa-masa sesudahnya, banyak mata uang utama dunia yang diperdagangkan kehilangan kemampuannya untuk diubah menjadi mata uang lain (less converbility). US$ merupakan satu-satunya mata uang utama yang masih tetap dapat dikonversikan.

Persetujuan Bretton Woods, 1945-1971
Negosiasi Bretton Woods berhasil melahirkan kesepakatan untuk menerapkan standar tukar emas. Dalam persertujuan tersebut ditetapkan Sistem Moneter Internasional, yang pada uintinya merupakan sistem berbasis dollar Amerika Serikat. Selain itu juga disepakati pembentukan intitusi untuk membantu negara-negara dalam hal manajemen neraca pembayaran internasional dan kebijakan penentuan nilai tukar mata uang. Institusi tersebut dikenal dengan sebutan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund). Selain IMF juga dibentuk Bank Dunia (World Bank) yang berfungsi membantu pembangunan dan rekonstruksi perekonomian secara umum.
Dalam persetujuan Bretton Woods disepakati bahwa semua negara harus menetapkan nilai mata uangnya dalam emas, tetapi tidak diwajibkan mempertukarkan mata uangnya dengan emas. Hanya US$ yang dapat dikonversikan ke emas (US$ 35/ons emas). Oleh karena itu, semua negara akan menetapkan nilai tukar mata uangnya terhadap US$, kemudian menghitung nilai paritas emas mata uangnya untuk mendapatkan kurs terhadap US$ seperti yang dikehendaki. Telah disepakati bahwa semua negara akan berusaha mempertahankan nilai mata uangnya, kira-kira 1% dari nilai parnya. Caranya ialah dengan membeli atau menjual valuta asing atau emas sebesar yang diperlukan. Devaluasi tidak boleh dipakai sebagai kebijakan perdagangan untuk bersaing, tetapi apabila keadaan tidak memungkinkan, misalnya terjadi defisit transaksi berjalan yang berkelanjutan, devaluasi 10% boleh dilakukan tanpa persetujuan formal dari IMF. Semakin besar devaluasi, persetujuan formal dari IMF semakin diperlukan.

Sistem Kurs Mengambang, 1971-sekarang
Perubahan sistem kurs tetap ke sistem kurs mengambang melalui suatu proses yang panjang dan cukup rumit, mulai dari krisis Agustus 1971 sampai perundingan di Jamaika. Sistem kurs mengambang ini dipergunakan oleh sebagian besar negara yang melakukan perdagangan internasional. Berikut ini akan dijelaskan tentang bagaimana sistem kurs mengambang diterapkan dan digunakan sampai sekarang ini.

- Krisis Agustus 1971

Kurangnya keyakinan terhadap sistem moneter international, khususnya US$, mencapai puncaknya pada Agustus 1971, dimana defisit neraca pembayaran Amerika Serikat mencapai US$ 29.6 trilyun. Tanggal 15 Agustus 1971, Presisden Richard Nixon didesak untuk menghentikan pembelian dan penjualan emas secara resmi oleh Bank Sentral Amerika Serikat, setelah kira-kira 1/3 dari cadangan emas resmi mengalir ke luar Amerika Serikat hanya dalam tempo tujuh bulan.
Karena harga emas sebesar US$ 35/ons secara teoritis dibiarkan tetap, maka jumlah cadangan moneter internasional tidak terpengaruh oleh sistuasi yang terjadi. Namun demikian, Amerika Serikat tetap mengumumkan bahwa US$ tidak dapat lagi dipakai sebagai basis standar emas. Sejak itu nilai tukar dari kebanyakan negara dagang terkemuka diperbolehkan berfluktuasi terhadap US$, dan karena olehnya secara tidak langsung berfluktuasi terhadap emas.

- Perjanjian Smithsinian

Pertemuan multilateral antara negara-negara dagang utama dunia (disebut kelompok 10) di Washington DC pada 17-18 Desember 1971, mencapai beberapa kesepakatan. Amerika Serikat setuju untuk mendevaluasi US$ menjadi US$ 38/ons (terdepresiasi sekitar 8,75%). Sebagai gantinya, anggota kelompok 10 yang lain setuju untuk mengapresiasikan mata uangnya terhadap US$. Apresiasi mata uang berkisar antara 7,4% sampai 16,9%. Lebih jauh lagi, batas fluktuasi nilai mata uang yang diperlebar dari 1% menjadi 2,25%. Kesepakatan ini dikenal dengan Persetujuan Smithsonian.
Memasuki pertengahan kedua tahun 1972, penyesuaian nilai mata uang mulai diberlakukan. US$ tetap lemah karena defisit neraca pembayarannya terus berlanjut. Selain itu, mata uang US$ masih tidak konvertibel untuk dikonversikan ke emas, dan kemungkinan untuk dapat dikonversikan kembali di masa yang akan datang sangat kecil. Sementara itu, harga emas di pasar bebas Lordon pada Agustus 1972 sebesar US$ 70/ons, yang sebelumnya US$ 38/ons.

- Keputusan untuk beralih ke kurs mengambang, Maret 1973

Sebelum persetujuan Smithsonian genap berumur satu tahun, telah timbul tekanan pasar yang menyebabkan perubahan nilai mata uang. US$ didevaluasi untuk kedua kalinya, menjadi US$ 42,22/ons emas, pada 12 Januari 1973. Pada akhir bulan Februari 1973 terlihat bahwa sistem kurs tetap tidak cocok lagi dengan kondisi yang ada. Pasar-pasar valuta asing utama dunia tutup selama beberapa minggu pada bulan Maret 1973, dan ketika dibuka kembali, kebanyakan nilai mata uang diperbolehkan mengambang sesuai dengan ketentuan pasar. Nilai pari dibiarkan tetap.
Negara-negara yang menandatangani persetujuan Smithsonian mulai menyadari bahwa diperlukan terobosan baru pada sistem moneter international dari yang telah ditetapkan di Bretton Woods tahun 1944, tetapi belum terdapat kesepakatan mengenai bentuk perubahan yang diinginkan. Beberapa negara merasa bahwa sistem kurs tetap masih diperlukan, tetapi kebanyakan percaya bahwa sistem kurs mengambang yang terkendali akan lebih efektif dalam mengendalikan perekonomian dunia. Pada September 1972, IMF mengundang Komite 20, yang merupakan perluasan dari Komite 10, untuk memberikan saran perubahan sistem moneter internasional. Pertemuan diadakan pada Juli 1975. Terjadinya krisis minyak dan adanya perbedaan pendapat antara peserta kongres membuat perundingan gagal mencapai kata sepakat. Meskipun demikian, pertemuan tersebut meletakkan dasar-dasar pemikiran untuk pertemuan berikutnya di Jamaika pada Januari 1976.





- Perjanjian Jamaika, Januari 1976

Dalam Perundingan di Jamaika dicapai beberapa kesepakatan, yaitu :

1. Diterimanya sistem kur mengambang yang masih memperkenankan campur tangan pemerintah. Dengan demikian, negara tidak terikat untuk membatasi fluktuasi niali mata uangnya.
2. Emas tidak lagi dianggap sebagai aset cadangan. IMF setuju untuk mengembalikan 25 juta ons emas kepada anggotanya dan menjual 25 juta ons lainnya pada harga pasar yang berlaku. Hasil penjualan akan ditempatkan pada trust fund untuk membantu negara-negara miskin. Anggota IMF juga dapat menjual cadangan emasnya pada harga pasar yang berlaku.
3. Kuota IMF ditingkatakan ,menjadi US$ 41 trilyun. Selanjutnya kuota akan dinaikkan menjadi US$ 180 trilyun. Negara-negara berkembang yangbukan eksportir minyak memperoleh proporsi pinjaman yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Hak voting disesuaikan dengan distribusi perdagangan dan cadangan emas. Sepuluh persen dari keseluruhan hak voting dimiliki oleh negara-negara yang tergabung dalam OPEC.
Banyak pengamat merasa bahwa para ekonom telah berhasil mencapai kata sepakat mengenai fleksibilitas nilai tukar ketika kurs mengambang diterima oleh banyak negara pada tahun 1973, dan diperkuat oleh persetujuan Jamaika pada 1976. Beberapa argumentasi timbul seiring dengan berlakunya sistem kurs mengambang, baik yang pro maupun yang kontra. Mereka setuju dengan kurs mengambang yang menyodorkan argumentasi sebagai berikut :

1. Kurs yang fleksibel memungkinkan dilakukannya penyesuaian secara lebih halus jika terjadi gejolak eksternal. Tidak ada kebutuhan untuk “memompa” atau “mengempiskan” perekonomian secara keseluruhan, seperti yang akan dilakukan pada era kurs tetap.
2. Bank sentral tidak perlu memelihara cadangan internasional dalam jumlah yang besar untuk mempertahankan kurs.
3. Bank sentral tidak perlu kehilangan uang hanya untuk mencoba mempertahankan kurs yang sudah tidak sesuai lagi.
4. Negara-negara dapat menentukan kebijakan moneter dan fiskal secara independen tanpa harus memberikan pengaruh yang besar pada nilai mata uang.
5. Pasar forward menyediakan sarana yang efisien dan murah untuk menghilangkan risiko valuta asing.
Sementara itu, mereka yang tidak setuju dengan sistem kurs mengambang memiliki beberapa argumentasi, yaitu :

1. Meningkatkan voltalitas pada sistem kurs mengambang akan meningkatkan ketidakpastian harga. Hal ini dapat mengurangi volume perdagangan dunia dan menurunkan standar hidup masyarakat dunia.
2. Kurs fleksibel bersifat inflasioner karena mereka meniadakan disiplin eksternal yang dicerminkan pada kebijakan moneter dan fiskal pemerintah.
3. Kesalahan penentuan kurs yang bersifat temporer dapat menyebabkan kesalahan dalam memutuskan alokasi sumber daya.

- Krisis dollar Amerika Serikat, 1977-1978

Selama 1977-1978, nilai dollar menurun, dan masalah neraca pembayaran Amerika Serikat semakin memburuk akibat kebijakan ekspansi moneter. Penurunan nilai dollar terus berlangsung sepanjang tahun 1977. Hal ini mendorong Menteri Keuangan Amerika Serikat Michael Blumenthal mengumumkan bahwa dollar mengalami overvalued.

- Meningkatnya nilai dollar, 1980-1983

Setelah nilai dollar menurun pada tahun 1977 sampai 1978, Amerika Serikat mengubah kebijakan moneternya, antara lain dengan usaha menstabilkan penawaran uang dan inflasi, yang akhirnya akan menstabilkan tingkat bunga.
Adanya perubahan ini menyebabkan tingkat inflasi menurun dan nilai dollar melonjak. Lonjakan ini ditandai dengan ekspansi ekonomi secara besar-besaran di Amerika Serikat. Akibatnya, menarik banyak modal yang masuk ke Amerika Serikat.

- Menurunnya nilai dollar 1985-1987

Puncak nilai dollar terjadi pada bulan Maret 1985 yang kemudian mengalami penurunan nilai dalam jangka waktu +2,5 tahun. Penurunan ini menyebabkan perubahan kebijakan pemerintah dan penurunan kinerja ekonomi nasional secara relatif terhadap pertumbuhan negara utama lain.
Pada bulan September 1985, dollar menurun kira-kira 15% dari nilai pada bulan Maret. Tetapi penurunan ini tidak cukup untuk menghilangkan defisit neraca perdagangan yang dialami Amerika Serikat. Pada bulan itu juga, menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 6 negara yang dikenal dengan kelompok enam negara industri (Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Inggris, Jepang dan Kanada) mengadakan pertemuan di hotel Plaza di New York, dan menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Persetujuan Plaza (Plaza Agreement). Mereka mengumumkan bahwa semua mata uang utama harus diapreasi terhadap dollar Amerika Serikat dan berjanji akan melakukan intervensi di pasar uang agar persetujuan ini dapat terlaksana.
Dollar kembali mengalami penurunan yang tajam pada akhir tahun 1985 sampai awal tahun 1987. Karena itu, bulan Februari 1987 negara-negara industri utama kembali mengadakan pertemuan dan menghasilkan persetujuan baru yang dikenal dengan Louvre Accord. Mereka setuju bahwa tingkat kurs diatur kembali secukupnya dan berjanji untuk menjaga stabilitas kurs.

- Nilai dollar 1988-1993
Pada tahun 1987, nilai dollar masih terus menurun. Baru kemudian pada awal tahun 1988 nilai dollar kembali menguat. Namun, menurun kembali pada tahun 1990. Tahun 1991 dan 1992 nilai dollar kembali stabil.


Sistem Kurs Deviasi Pada 30 September 1998

Sistem kurs tertambat (pegged) Fleksibilitas terbatas terhadap satu mata uang Lebih fleksibel
Pada Satu Mata Uang Pada Mata Uang Komposit Satu Mata Uang Pengaturan Kerjasama Mengambang terkendali lainnya Secara Indevenden Mengambang
US$ parancis Lain-lain SDR Lainnya
Antingua &
Barbuda
Argentina
Bahamas
Barbados
Belize
Djiboti
Dominice
Ethiopia
Grenada
Irak
Lithuania
Malaysia
Marshall
Islanda
Mikronesia
Negerle
Oman
Palau
Panama
St.lucia
St. vincent & the Grenadines syria Benin
Burkina
Faso
Kamerun
Afrika
Tengah
Chad
Comoros
Congo
Pantai
Gading
Guinea-
Bissau
Gabon
Mali
Nigeria
Senegai
Togo


Bhutan
Lesotho
Swazliand
Boania &
Herzegovina
Brunei
Bulgaria
Cape Verde
Estonia
Klribati
Namibia
Napai
San marino Libya
Myanmar
Jordon
Latvia
Bangladeech
Botawana
Burundi
Cyprus
Fiji
Iceland
Kuwait
Italia
Malta
Maroko
Tonga
Vanuatu
Bahrain
Qatar
Saudi
Arabia
Uni Emirat Arab Denmark
Parancis
Jerman
Irlandia
Itali
Luxem-boung
Belanda
Spanyol
Austria
Belgia
Firlandia
Yunani
Portugal
Chili Lao
Colombia Maidives
Zambia Mauritania
Algaria Pakistan
Angola Polandia
Azerbaijan Romania
Balarus Singapura
Bolivia Sri Langka
Brazill Tunisia
Kamboja Turki
China Uruguay
Costa rica Vietnam
Kroasia Venezuela
Ceko Ukraina
Dominikan Turmeniktan
El Salsador Tajikistan
Ethiopia Suriname
Georgia Sudan
Honduras Kep.Solomon
Hongaria Solvenia
Iran Solvakia
Kazakhatan Malawi
Kenya Mauritius
Kyrgyu Nikaragua
Macadonia Nigeria
Iran Norwegia
China Paraguay
Ekuador Rusia
Mesir
Larael
Afganistan
Zimbabwe
Zambia
Yaman
Inggris
Thailand
Tanzadia
Swiss
Swedia
Somalia
Sao tome
Albania
Armenia
Congo
Eritrea
Guenia
India
Indonesia
Korea
Liberia
Madagaskar
Meksiko
Moldava
Mongolia
Mozambique
Papua nugini
Rwanda
Australia
Costarica
Bolivia
Brazil
Bulgaria
Canada
Rep.dominika
El sapador
Gambia
Ghana
Guatemala
Guyana
Haiti
Honduras
Jamaika
Jepang
Lobanon
Namibia
New-zealand
Peru
Philipina
Seirra
Laone
Afrika selatan
Uganda
USA


Sistem Moneter Eropa

Sistem moneter Eropa (EMS) mulai beroperasi pada bulan Maret 1979, dengan beranggotakan 12 negara (yang juga anggota European Union). Tujuannya adalah untuk membantu stabilitas moneter negara-negara komunitas Eropa (European Community). Dalam sistem ini, para anggota menetapkan unit mata uang Eropa (ECU) yang memainkan peran penting dalam menjalankan EMS. ECU adalah mata uang komposit yang merupakan penjumlahan dari mata uang 12 negara Eropa. Proporsi masing-masing mata uang negara anggota dalam ECU menunjukkan kekuatan ekonomi relatif dalam komunitas Eropa. ECU berfungsi sebagai satuan unit (unit of account), alat settle-ment, dan aset cadangan bagi anggota EMS.
Inti dari sistem ini adalah Exchange-rate Mechanism (ERM), merupakan indeks komposit penjumlahan dari mata uang negara Eropa yang membatasi fluktuasi mata uang negara anggota EMS dengan menentukan batas atas dan batas bawah. Tujuan diterapkannya ERM adalah untuk menjaga ekuilibrium kurs di pasar uang internasional. Kurs mata uang negara anggota komunitas Eropa tidak boleh berfluktuasi melebihi 2,25% di atas atau di bawah nilai pari.
Pada tanggal 12 Januari 1987, ditetapkan kembali kurs ECU terhadap mata uang negara Eropa. Satu ECU senilai 42.4582 francs Belgia, atau 7.85212 kroner Denmark, atau 2.05853 Deustchemarks, atau 6.90403 franc Perancis, atau 2.31943 gulden Belanda, atau 0.798411 pound Irlandia, atau 1483.58 lira Italia. Negara lain seperti Norwegia, Swedia, dan Firlandia yang menambatkan mata uangnya pada ECU, tidak menjadi anggota ERM.
ECU sebagai nilal sentral EMS dipergunakan untuk menghitung kurs bilateral. Sebagai contoh, nilai satu ECU adalah 2.05853 Deutschemarks dan satu ECU sama dengan 7.85212 kroner Denmark, maka nilai kurs tertambat antara Jerman dan Denmark adalah:

7.85212 kroner/ECU = 3.8144 kroner/DM
2.05853 Deutschemark
Bertolak dari kurs bilateral, bank sentral masing-masing negara harus melakukan intervensi untuk menjaga kurs yang berlaku berkisar antara nilai di atas.
Pada tanggal 1 Agustus 1993, fluktuasi kurs mata uang negara-negara angota diijinkan 15% dari nilai pari, kecuali Jerman dan Belanda masih menggunakan rentang fluktuasi yang lama, yakni 2,25%).
Berdasarkan hasil pertemuan Maastricht pada tahun 1991, terhitung sejak tangal 1 Januari 1999, Euro resmi menggunakan ECU dalam mekanisme nilai tukar Eropa. Euro hanya berfungsi sebagai satuan hitung dan tidak memiliki wujud fisik. Baru pada tangal 1 Januari 2002, mata uang Euro mulai diedarkan dan akan diperdagangkan bersama mata uang negara anggota EMS. Selanjutnya, mulai tanggal 1 Juli 2002, mata uang Euro akan menggantikan mata uang negara anggota EMS. Negara-negara yang telah menyetujui untuk bergabung dalam EMU adalah Austria, Belgia, Finlandia. Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Luxemburg, Belanda, Portugal, dan Spanyol. Sementara Denmark, Swedia, dan Inggris belum bersedia bergabung.

Eurocurrencies

Eurocurrencies kadang dipandang sebagai jenis uang, walaupun dalam kenyataannya adalah mata uang domestik suatu negara yang didepositokan di negara lain. Sebagai contoh, Eurodollar adalah deposito yang didominasi dalam mata uang dolar di bank-bank di luar Amerika Serikat di luar negeri, atau Internasional Banking Facility (IBF).

Karakteristik Eurocurrency

Jangka waktu deposito Eurodollar didasarkan pada sertifikat deposito, biasanya tiga bulan atau lebih, dan dalam jumlah jutaan dolar. Deposito Eurodollar tidak sama dengan demand deposit karena pemilik deposito Eurodollar tidak dapat menarik cek atas deposito yang dimilikinya, Dalam lampiran I pada akhir bab ini akan dijelaskan tentang bagaimana proses penciptaan Eurodollar.
Banyak mata uang yang dapat didepositokan dalam bentuk “Euro”, seperti Euromark (deposito Deutschemark pada bank di luar Jerman), Eurosterling (poundsterling Inggris yang didepositokan di luar Inggris), dan Euroyen (yen Jepang yang didepositokan di luar Jepang).
Pasar Eurocurrency memiliki dua tahun, yaitu:
1. Sebagai pasar uang yang efisien dan tepat untuk menyimpan kelebihan likuiditas perusahaan.
2. Sebagai sumber utama pinjaman jangka pendek untuk membiayai kebutuhan modal kerja perusahaan, termasuk pula pembiayaan ekspor dan impor.
Bank di mana Eurocurrencies didepositokan biasanya disebut “Eurobank”. Eurobank diartikan sebagai perantara keuangan yang mendapatkan deposito dalam mata uang negara tertentu dan kemudian menyalurkannya ke peminjam dalam mata uang negara tempat dia berlokasi. Dalam prakteknya, Eurobank biasanya merupakan departemen atau bagian dari bank komersial besar.

Sejarah Pasar Eurodollar

Pasar Eorudollar modern mulai berjalan setelah perang dunia II, ketika Eropa Timur bersedia menerima deposito dalam dollar, termasuk bank dagang Uni Soviet, karena mereka kemudian dapat meminjamkan dollar yang mereka kumpulkan ke negara atau lembaga yang membutuhkan. Diakuinya dollar sebagai mata uang yang paling konvertibel pada masa itu justru semakin mendorong negara-negara Eropa untuk mengumpulkan dollar dalam jumlah besar. Dollar yang terkumpul disalurkan sebagai pinjaman atau didepositokan kembali ke negara lain sebagai contoh, Eropa Timur mendepositokan dollar di Eropa Barat. Bank Eropa Barat kemudian mendepositokan kembali dollar tersebut ke negara lain.
Pada tahun 1957, keadaan perekonomian Inggris melemah. Untuk merespons hal tersebut, otoritas moneter Inggris melaksanakan pengendalian ketat terhadap pinjaman bank Inggris kepada nonresiden, dalam mata uang poundsterling. Bank-bank Inggris kemudian memberikan pinjaman dalam mata uang dollar, sebagai satu-satunya alternatif yang diizinkan, untuk memperbaiki posisinya di dunia internasional. Perdagangan mata uang dollar internasional berpusat di London karena kota ini ahli dalam masalah moneter internasional.
Pasar dollar Eropa semakin membesar saat Amerika Serikat mengalami kesulitan neraca pembayaran pada tahun 1990-an. Dan terus bertumbuh setiap tahun karena pasar Eurocurrency adalah pasar uang internasional berskala besar yang relatif bebas dari campur tangan dan peraturan pemerintah.


Rangkuman

Jika nilai mata uang suatu negara ditentukan oleh pemerintah, maka disebut sistem kurs tetap. Sedangkan jika nilai mata uangnya diserahkan sepenuhnya kepada pasar, maka disebut kurs mengambang. Suatu mata uang dapat dikatakan konvertibel apabila mata uang tersebut bisa dipertukarkan secara bebas dengan mata uang negara lain. Contoh mata uang yang konvertibel adalah dollar Amerika Serikat.
Ada 7 alternatif sistem kurs dewasa ini, antara lain sistem kurs mengambang bebas, mengambang terkendali, pengaturan zona target, sistem kurs tertambat, tertambat merangkak, tertambat pada sekeranjang mata uang , dan sistem kurs tetap. Hampir sudah tidak ada lagi negara yang menganut sistem kurs tetap. Sistem kurs mengambang bebas paling banyak dipergunakann oleh negara-negara di dunia.
Sistem moneter internasional dimulai sejak tahun 1821, saat terjadinya perang Napoleon, dengan berlakunya standar emas. Periode antar perang dunia ditandai dengan periode kurs fluktuasi tahun 1919-1925, standar emas tahun 1925-1931, dan nasionalisme moneter tahun 1931-1940. Kemudian setelah perang dunia II diberlakukan sistem Bretton Wood sampai tahun 1971, yang dilanjutkan dengan sistem kurs mengambang samapi saat ini. Selama berlakunya sistem kurs mengambang terjadi beberapa peristiwa penting, seperti perjanjian Smithsonian, perjanjian Jamaika, persetujuan Plaza, dan Louvre Accord.
Sistem moneter Eropa dimulai pada bulan Maret 1979 dengan anggota 12 negara yang juga anggota Europian Union yang bertujuan membantu stabilitas moneter negara-negara komunitas Eropa. Mata uang yang dipakai dalam SME dikenal dengan nama ECU, sedangkan indeks yang digunakan sebagai nilai pari dinamakan ERM. Dari nilai ECU dapat dihitung kurs bilateral, yaitu dengan membandingkan nilai kurs mata uang terhadap ECU satu negara dengan kurs mata uang negara lain terhadap ECU.
Eurocurrencies adalah mata uang domestik suatu negara yang didepositokan di negara lain. Jangka waktu deposito Eorocurrency biasanya tiga bulan atau lebih. Pertumbuhan Eurocurrencies bertambah dalam jumlah jutaan dollar setiap bulannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar