What You See What You Get

(^^) WELCOME TO ZANIZONE BLOG (^^) please follow my twitter @Sani_Interisti (^^) and add my facebook "Sani Kurniawan" (^^)

Senin, 24 Januari 2011

Lalu Lintas Pembayaran Internasional 4

Neraca Pembayaran Internasional




Pendahuluan

Sama seperti harga komoditas, harga suatu mata uang juga ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap mata uang tersebut. Apabila penawaran meningkat, ceteris paribus, maka harga mata uang akan turun atau mata uang mengalami depresiasi nilai. Sebaliknya kalau permintaan yang meningkat, ceteris paribus, maka harga mata uang akan naik atau mata uang mengalami apresiasi nilai.
Berdasarkan kenyataan di atas, pemahaman terhadap neraca pembayaran internasional sangat dibutuhkan, khususnya bagi pemerintah yang mempunyai tanggung jawab menjaga kestabilan nilai tukar mata uangnya. Hal ini karena neraca pembayaran internasional merangkum seluruh catatan transaksi yang mendorong timbulnya penawaran dan permintaan terhadap mata uang suatu negara. Dengan demikian, dari evaluasi terhadap posisi neraca pembayaran internasional akan dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang memicu permintaan dan penawaran mata uang.

Pengertian Neraca Pembayaran

Neraca Pembayaran (balance of payments) adalah sebuah laporan akuntansi yang merangkum seluruh transaksi yang dilakukan oleh residen domestik dan asing selama periode waktu tertentu. Pencatatan dilakukan dengan menggunakan prinsip pembukuan berpasangan (double-entry bookeeping). Artinya, setiap transaksi dicatat baik pada sisi debet dan kredit sehingga jumlah seluruh sisi debet dari neraca pembayaran suatu negara akan sama persis dengan sisi kreditnya. Akan tetapi, untuk setiap bagian dari laporan neraca pembayaran, mungkin terdapat posisi surplus atau defisit.

Pedoman untuk menentukan rekening mana dalam neraca pembayaran yang dikredit dan mana yang didebet (lihat Levi (1990), hal 79) adalah :
“Setiap transaksi yang meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik, dicatat sebagai kredit dalam neraca pembayaran negara tersebut dan di beri tanda positif/+. Sebaliknya, setiap transaksi yang meningkatkan penawaran ter-hadap mata uang domestik, dicatat sebagai debet dan diberi tanda negatif/-.“

Untuk memperjelas, berikut akan diberikan beberapa contoh. Misalnya se-buah perusahaan Amerika Serikat (AS) mengekspor tekstil senilai USD 3.000.000,- ke Inggris, dan importir membayarnya dari rekening USD-nya di bank New York. Pencatatan transaksi tersebut adalah :

Juta USD
(kredit +; debet -)
Ekspor (tekstil) + 3
Aset asing di AS: kewajiban bank AS - 3

Eksport tekstil menimbulkan permintaan terhadap USD dan pembayaran dengan USD menimbulkan penawaran terhadap USD. Pembayaran mengurangi kewajiban bank AS, yaitu aset importir Inggris yang di simpan di bank New York. Dari contoh terlihat bahwa neraca pembayaran menunjukkan aliran barang dan aliarn pembayaran.

Juta USD
(kredit +; debet -)
Import (garment) - 5
Aset asing di AS: kewajiban bank AS + 5

Impor garmen oleh perusahaan AS menimbulkan penawaran terhadap USD dan penyimpanan USD oleh eksportir Inggris menimbulkan permintaan terhadap USD. Penyimpanan uang meningkatkan kewajiban bank AS dan aset eksportir Inggris. Sama seperti contoh pertama, setiap pencatatan pada suatu rekening di neraca pembayaran akan memiliki pasangan di rekening yang lain.
Sebuah laporan neracapembayaran dapat dirinci menjadi beberapa komponen. Komponen dari neraca pembayaran yang banyak mendapat perhatian adalah rekening berjalan (current account) dan rekening modal (capital account).

Rekening Berjalan (Current Account)
Rekening berjalan merangkum kinerja perdagangan internasiona, baik barang maupun jasa, serta transaksi unilateral. Komponen utamanya adalah neraca perdagangan (Balance of Trade) yang menunjukkan besarnya ekspor dan impor barang. Surplus dalam neraca perdagangan mencerminkan bahwa ekspor barang lebih besar dari impor. Sebaliknya, defisit dalam neraca perdagangan menunjukkan bahwa ekspor barang lebih kecil dari impor.
Apabila ekspor dan impor barang ditambah dengan “ekspor dan impor jasa”, maka akan diperoleh neraca barang dan jasa (Balance on goods and services). “ekspor jasa” meliputi penerimaan bunga dan dividen dari investasi asing, penerimaan dari sektor pariwisata, dan sebagainya. Apabila neraca barang dan jasa ditambah dengan transfer unilateral (unilateral transfer), maka akan diperoleh rekening berjalan.
Kinerja rekening berjalan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang besar pengaruhnya terhadap rekening berjalan adalah :
a. Laju inflasi
b. Pendapatan nasional
c. Nilai tukar mata uang
d. Restriksi pemerintah
Apabila asumsi ceteris paribus diterapkan, laju inflasi domestik cenderung berkorelasi negatif dengan kinerja ekspor dan berkorelasi positif dengan aktivitas impor. Hal ini karena laju inflasi domestik yang tinggi cenderung akan menaikkan harga jual produk domestik, sehingga produk impor dipandang lebih murah dari produk domestik. Akibatnya, impor akan naik dan ekspor akan turun.
Apabila pendapatan nasional riil mengalami kenaikan yang relatif lebih tinggi dari negara lain, maka permintaan terhadap barang impor umumnya juga mengalami peningkatan, sehingga kinerja rekening berjalan akn turun jika kenaikan nilai ekspor tidak mampu mengimbangi lonjakan impor.
Jika nilai mata uang domestik mengalami apresiasi terhadap mata uang asing, maka produk domestik yang diekspor akan naik, demikian pula sebaliknya, ceteris paribus. Kondisi ini mungkin tepat jika produk domestik mempunyai kandungan lokal yang tinggi. Tetapi jika produk domestik memiliki kandungan impor tinggi, penurunan nilai mata uang domestik tidak serta merta membuatnya lebih murah. Hal ini karena produsen lokal tentunya akan menaikkan harga jual karena biaya produksinya mengalami kenaikan. Sebaliknya, apresiasi nilai mata uang domestik juga tidak langsung menurunkan daya saing produk lokal, jika produk domestik mempunyai kandungan lokal tinggi. Dalam situasi ini, kenaikan nilai mata uang domestik justru dapat dimanfaatkan oleh produsen lokal untuk meningkatkan omset penjualan melalui penurunan harga jual.
Dengan dalih melindungi industri dalam negeri, pemerintah sering kali menerapkan hambatan tarif maupun nontarif terhadap produk impor. Hambatan tarif ditujukan untuk membuat produk impor menjadi lebih mahal dari produk domestik sehingga diharapkan masyarakat domestik lebih menyukai produk lokal yang lebih murah. Hambatan nontarif umumnya dilakukan dengan menetapkan kuota, yaitu kuantitas maksimum suatu produk yang boleh diimpor. Cara yang lain adalah dengan menerapkan standar kualitas yang sangat tinggi dan ketat sehingga membatasi jumlah produk impor oleh pemerintah, dalam jangka pendek memang akan mampu menghemat devisa dan memperbaiki rekening berjalan. Tetapi dalam jangka panjang kebijakan ini akan berdampak negatif jika ternyata hanya “meninabobokan” industri lokal, sehingga tidak mampu bersaing dalam kancah internasional. Selain itu, adanya restriksi oleh suatu negara dapat memancing negara lain untuk membalas tindakan itu sehingga menimbulkan kerugian di kedua pihak. Memasuki era globalisasi banyak negara mulai mengendurkan atau menghilangkan hambatan dalam perdagangan internasional. Bahkan saat ini telah terjalin beberapa kesepakatan antar negara untuk mendorong perdagangan bebas, misalnya: AFTA, NAFTA, WTO, dan sebagainya.


Rekening Modal (Capital Account)
Rekening modal menunjukkan besarnya investasi asing di dalam negeri dan investasi domestik di luar negeri. Investasi yang dicatat dalam rekening modal dapat berupa investasi dalam aset riil maupun aset finansial, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penanaman modal asing, pembelian sekuritas di pasar modal adalah contoh dari transaksi yang dicatat dalam rekening modal. Evaluasi terhadap rekening ini akan menunjukkan seberapa besar animo asing untuk berinvestasi ke dalam negeri dan berapa besarnya modal domestik yang ditanamkan ke luar negeri. Apabila rekening modal suatu negara dibandingkan dengan rekening modal negara lain akan dapat dievakuasi seberapa kuat daya saing suatu negara dalam menarik modal investor asing.


Kaitan Investasi dan tabungan domestik dengan Rekening Modal
Analisis tentang kaitan antara investasi dan tabungan domestik dengan rekening modal dapat dimulai dengan melihat persamaan untuk perekonomian yang terdiri dari dua sektor:

NI = NE (3.1)
NI = C + S (3.2)
NE = C + I (3.3)
NI – NE = S – I (3.4)

Keterangan:
NI = Pendapatan nasional (national income)
NE = Pengeluaran nasional (national expenditure)
C = Konsumsi (consumption)
S = Tabungan (savings)
I = Investasi (investment)

Persamaan 3.4 menunjukkan bahwa jika pendapatan nasional lebih besar dari pengeluaran nasional, maka akan timbul surplus modal karena dalam kondisi ini tabungan lebih besar dari investasi. Surplus modal ini menunjukkan jumlah modal domestik yang diinvestasikan di luar negeri sehingga timbul arus modal keluar. Sebaliknya, jika pengeluaran nasional lebih besar dari pendapatan nasional, maka akan timbul defisit modal yang menunjukkan besarnya arus modal masuk dari luar negeri ke dalam negeri. Surplus atau defisit modal sering kali disebut sebagai investasi asing bersih (net foreign investment). Surplus modal menunjukkan adanya investasi asing bersih positif, dan begitu pula sebaliknya.


Kaitan Antara Rekening Berjalan dan Rekening Modal
Apabila produksi domestik tidak habis dikonsumsi atau digunakan, sisa produksi domestik akan diekspor. Sebaliknya, jika kebutuhan domestik lebih besar dari produk domestik, sisa kebutuhan akan dipenuhi dengan impor. Dengan demikian, dapat dibuat sebuah persamaan:

NI – NE = X – M (3.5)

Keterangan:
X = Ekspor
M = Impor

Persamaan 3.5 menunjukkan bahwa surplus transaksi berjalan (ekspor lebih besar dari impor) terjadi pada saat pendapatan nasional lebih besar dari pengeluaran nasional. Sebaliknya, defisit transaksi berjalan terjadi jika pengeluaran nasional melebihi pendapatan nasional. Selanjutnya, bila persamaan 3.5 dikombinasikan dengan persamaan 3.4 akan diperoleh persamaan baru:

S – I = X – M (3.6)
NFI = X – M (3.7)

Keterangan:
NFI = Investasi asing bersih (net foreign investment)

Persamaan 3.6 menunjukkan jika tabungan domestik melebihi investasi domestik, akan terjadi surplus dalam rekening berjalan. Sebaliknya apabila tabungan lebih kecil dari investasi, rekening berjalan akan mengalami defisit. Persamaan 3.6 mampu menjelaskan mengapa Jepang mengalami surplus dalam rekening berjalannya, sementara Amerika Serikat mengalami defisit. Hal ini karena Jepang mempunyai tingkat tabungan yang jauh lebih tinggi dari tingkat investasi domestik, baik dari ukuran absolut maupun relatif. Sementara itu, di amerika Serikat, besarnya tabungan jauh lebih kecil dari nilai investasi domestik.
Persamaan 3.7 menjelaskan bahwa jika rekening berjalan mengalami surplus, suatu negara akan menjadi pengekspor modal bersih; sebaliknya, defisit rekening berjalan menunjukkan bahwa negara tersebut menjadi pengimpor modal bersih. Persamaan ini juga dapat menjelaskan mengapa Jepang yang mengalami surplus dalam rekening berjalan menjadi pengekspor modal bersih, sementara Amerika Serikat dengan rekening berjalan defisit menjadi pengimpor modal bersih.

Faktor-faktor yang Menentukan Debet dan Kredit Neraca Pembayaran

Uraian berikut ini menjelaskan faktor-faktor yang menentukan debet dan kredit neraca pembayaran yang terdapat dalam Tabel 3.1 Tabel 3.2 menyajikan neraca pembayaran Indonesia pada kuartal I 1995.










Tabel 4.1 Ringkasan Neraca Pembayaran Amerika Serikat, Kuartal I 1995

Baris (Kredit, + ; debit, -) Dalam milyar dolar Amerika Serikat
1. Ekspor barang dan jasa
2. Barang
3. Jasa
4. Impor barang dan jasa
5. Barang
6. Jasa
7. Pendapatan bersih (net income)
8. Transfer Unilateral
9. Aset Amerika Serikat di luar negeri (bersih)
10. Cadangan ofisial
11. Aset pemerintah AS selain cadangan ofisial
12. Aset swasta Amerika Serikat
13. – Penanaman modal ke luar begeri
14. – Sekuritas asing
15. – Aset nonbank Amerika Serikat
16. – Aset Bank Amerika Serikat
17. Aset asing di Amerika Serikat (bersih)
18. Cadangan ofisial asing
19. Aset asing lain di Amerika Serikat
20. – Penanaman modal asing
21. – Sekuritas Amerika Serikat
22. - Kewajiban non bank Amerika Serikat
23. – Kewajiban bank Amerika Serikat
24. Alokasi SDR
25. Ketidaksesuaian statistik

Memoranda:
26. Neraca perdagangan (2+5)
27. Neraca barang dan jasa (1+4)
28. Neraca transaksi berjalan (1+4+8)
29. Peningkatan aset cadangan ofisial Amerika Serikat (baris 10)
30. Peningkatan aset cadangan ofisial asing (baris 18)





+ 194,9
+144,94
+ 49,96
- 226,66
- 190,06
- 36,60
- 3,02
- 6,97
- 76,95
- 2,72
- 0,16
- 74,07
- 17,94
- 20,60
-
- 35,53
115,09
- 33,84
- 81,25
11,58
54,66
-
15,01
-
4,10


- 45,12
- 31,76
- 41,75
- 2,72
33,84


Tabel 3.2 Ringkasan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal I tahun 1995

Baris (kredit, + ; debit, -) Dalam jutaan dolar Amerika Serikat
1. Ekspor barang dan jasa + 12.145
2. Barang + 10.812
3. Jasa + 1.333
4. Impor barang dan jasa - 12.077
5. Barang - 9.365
6. Jasa - 2.712
7. Pendapatan bersih (net income) - 2.011
8. Transfer Unilateral + 239
9. Aset Amerika Serikat di luar negeri (bersih) - 123
10. Cadangan ofisial - 123
11. Aset pemerintah AS selain cadangan ofisial -
12. Aset swasta Amerika Serikat -
13. – Penanaman modal ke luar begeri -
14. – Sekuritas asing -
15. – Aset nonbank Amerika Serikat -
16. – Aset Bank Amerika Serikat + 1.019
17. Aset asing di Amerika Serikat (bersih) -
18. Cadangan ofisial asing -
19. Aset asing lain di Amerika Serikat + 1.019
20. – Penanaman modal asing + 978
21. – Sekuritas Amerika Serikat + 175
22. - Kewajiban non bank Amerika Serikat + 134
23. – Kewajiban bank Amerika Serikat
24. Alokasi SDR 0
25. Ketidaksesuaian statistik + 515

Memoranda:
26. Neraca perdagangan (2+5) + 1.477
27. Neraca barang dan jasa (1+4) + 68
28. Neraca transaksi berjalan (1+4+8) + 1.827
29. Peningkatan aset cadangan ofisial Amerika Serikat (baris 10) - 123
30. Peningkatan aset cadangan ofisial asing (baris 18)

Sumber: Balance of Payments Statistics,year book, IMF, 1995 part 1, hal.370

Ekspor Barang dan Jasa (Export of Goods and Services)

Untuk menyelesikan transaksi impor atas barang dan jasa dari Amerika Serikat yang dinyatakan dalam dolar Amerika Serikat, importir harus membeli dolar. Pada kasus-kasus tertentu (jarang terjadi), pembayaran dilakukan dengan mata uang nondolar. Pada kasus ini, eksportir Amerika Serikat yang akan menukarkan mata uang asing yang diterima dengan dolar . Setiap ekspor yang dilakukan oleh Amerika Serikat akan meningkatkan permintaan terhadap dolar dan dicatat dengan tanda positif. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi ekspor barang juga mempengaruhi ekspor jasa, tetapi ada perbedaan pengaruh yang ditimbulkan terhadap barang dan jasa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor barang, dan oleh karenanya juga mempengaruhi permintaan terhadap dolar adalah:
1. Harga barang di Amerika serikat dan harga barang konvertibel di luar negeri
Apabila inflasi di Amerika Serikat lebih tinggi dari tingkat inflasi di negara lain, ceteris paribus, barang-barang dari Amerika Serikat menjadi kurang kompetitif, dan kuantitas ekspor akan turun. Dengan demikian, tingkat inflasi di Amerika Serikat cenderung mengurangi permintaan terhadap US$. Produk-produk tertentu yang diekspor Amerika Serikat juga tergantung pada perbandingan harga di Amerika Serikat dan di negara lain. Produk yang dapat diproduksi dengan lebih murah karena akan diekspor. Sementara itu, untuk produk yang biaya produksinya di Amerika Serikat lebih mahal akan diimpor.
2. Pendapatan penduduk negara asing
Apabila pembeli asing mengalami peningkatan pendapatan riil, pasar ekspor produk Amerika Serikat akan meningkat karena ada peningkatan daya beli. Ceteris paribus, peningkatan ekspor Amerika Serikat akan meningkatkan permintaan terhadap US$.
3. Bea impor dan kuota
Semakin tinggi tarif impor dan semakin rendah jumlah kuota, serta semakin banyaknya hambatan-hambatan nontarif akan mengurangi ekspor Amerika Serikat.
4. Nilai tukar mata uang Amerika serikat terhadap mata uang negara lain
Semakin tinggi nilai tukar mata uang Amerika Serikat terhadap mata uang negara lain, barang-barang Amerika Serikat akan lebih mahal di pasar ekspor sehingga akan menurunkan kuantitas ekspor, ceteris paribus. Ini berarti ekspor Amerika Serikat tergantung pada nilai tukar, sementara pada saat yang bersamaan nilai tukar juga tergantung pada kinerja ekspor Amerika serikat.
Ekspor juga dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu performed service dan debt service. Performed service pada hakikatnya sama dengan ekspor barang, yaitu ada usaha menjual jasa. Contoh dari ekspor performed service adalah pengeluaran turis asing dari Amerika serikat, pendapatan perusahaan Amerika Serikat dari luar negeri, dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor performed service sama dengan faktor-faktor ynag mempengaruhi ekspor barang, yaitu harga, pendapatan negara lain, hambatan perdagangan, dan nilai tukar mata uang.
Ekspor jasa yang termasuk dalam kategori debt service berasal dari pendapatan penduduk Amerika serikat dari investasi mereka di luar negeri, yang dilakukan di masa lampau. Pendapatan tersebut dapat berbentuk bunga simpanan, bunga obligasi, dividen, sewa properti, dan laba operasi di luar negeri.

Impor Barang dan Jasa (Import of Goods and Services)

Impor Amerika Serikat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor, tetapi arahnya berlawanan. Cateris paribus, impor barang akan semakin tinggi jika harga barang di Amerika Serikat relatif lebih mahal daripada harga di luar negeri, jika tarif masuk barang impor lebih rendah, jika kuota barang impor lebih banyak dan jika nilai tukar US$ semakin tinggi dari mata uang negara lain. Impor performed service juga tergantung pada harga relatif, pendapatan Amerika Serikat, pembatasan impor oleh pemerintah Amerika Serikat dan nilai tukar mata uang. Sementara untuk impor debt service, besarnya akan dipengaruhi oleh investasi asing di Amerika Serikat di masa lampau, baik dalam bentuk investasi riil maupun investasi finansial. Selain itu, besarnya impor debt service juga ditentukan oleh tingkat pengembalian investasi dari setiap investasi asing di Amerika Serikat.
Selisih ekspor dan impor akan menentukan surplus atau defisit neraca perdagangan. Sebaliknya jika ekspor lebih kecil dari impor, maka terjadi defisit neraca perdagangan.

Pendapatan Neto (Net Income)
Pendapatan neto meliputi:
1. Kompensasi pekerja, mencakup upah, gaji dan benefit lain, dalam kas atau alat tukar lain, dan meliputi pula pekerja musiman, pekerja urban, dan pekerja non residen (seperti staf kedutaan).
2. Pendapatan investasi (investment income), mencakup aset keuangan yang dibiayai oleh residen maupun nonresiden.

Transfer Unilateral (Unilateral Transfer)
Transfer unilateral meliputi bantuan luar negeri/asing, hibah pembangunan ekonomi, hibah pribadi atau sumbangan. Disebut transfer atau pembayar tidak memperoleh kompensasi langsung atas pembayarannya. Jadi hanya ada satu arah transaksi. Pada transaksi non unilateral, ada dua arah transaksi, yaitu transaksi penyerahan barang atau jasa, dan transaksi pembayaran. Baik transaksi unilateral maupun non unilateral, keduanya akan mempengaruhi permintaan dan penawaran terhadap mata uang suatu negara.
Pihak yang melakukan transfer unilateral dianggap membeli goodwill dari pihak yang menerima transfer tersebut. Pembelian goodwill memiliki implikasi sama seperti impor barang dan jasa. Ia akan meningkatkan penawaran terhadap mata uang domestik sehingga dalam neraca pembayaran diberi tanda negatif. Sebaliknya, penerimaan transfer unilateral dianggap sebagai penjualan goodwill. Penjualan goodwill memiliki implikasi sama seperti ekspor barang dan jasa. Ia akan meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik sehingga dalam neraca pembayaran diberi tanda positif.
Besarnya nilai transfer unilateral tergantung pada kemurnian hati dan kebaikan hati pemerintah negara lain. Selain itu, nilai transfer unilateral juga dipengaruhi oleh jumlah ekspatriat yang mengirimkan uangnya ke negara asalnya. Umumnya, negara-negara berkembang memiliki nilai transfer unilateral neto positif. Sementara itu, negara-negara maju memiliki nilai unilateral negatif.
Dengan menggabungkan nilai ekspor dan impor barang dan jasa (baris 1 dan 4), transfer unilateral neto (baris 8), dan pendapatan neto (baris 7), akan diketahui surplus atau defisit neraca pembayaran pada rekening berjalan (balance of payment on current account). Pada tabel 3.1 terlihat bahwa rekening berjalan Amerika Serikat defisit sebesar US$ 41,75 miliar (baris 28).

Aset Neto Amerika serikat di Luar negeri (Net Assets Abroad)

Pada Tabel 3.1 terlihat bahwa aset Amerika Serikat neto di luar negeri sebesar US$ -76,95 milyar (baris 9). Berikut uraian dari komponen-komponen yang menentukan besarnya aset Amerika Serikat di luar negeri.
Komponen pertama adalah cadangan pemerintah Amerika Serikat (official reserve). Cadangan pemerintah (baris 10) adalah aset likuid yang di pegang oleh Bank Sentral dan Departemen Keuangan Amerika Serikat. Aset-aset yang disimpan meliputi emas, valuta asing di bank-bank asing, saldo di Dana Moneter Internasional (IMF = International Monetery Fund) termasuk saldo SDRs (Special Drawing Rights). Besarnya cadangan pemerintah sangat ditentukan oleh keinginan pemerintah Amerika Serikat untuk menentukan nilai tukar US$ pada tingkat yang menguntungkan. Apabila nilai tukar US$ hendak diturunkan, maka cadangan resmi akan ditambah. Artinya, pemerintah Amerika Serikat akan menjual US$ untuk menambah cadangan resminya. Penjualan US$ akan meningkatkan penawaran US$ sehingga nilai tukar US$ akan turun, ceteris paribus. Sebaliknya jika nilai tukar US$ dipandang terlalu rendah, maka pemerintah Amerika Serikat akan mengurangi cadangan pemerintah dan membeli US$. Pembelian US$ berarti meningkatkan permintaan terhadap US$, sehingga nilai tukar US$ akan terangkat kembali, ceteris paribus.
Komponen kedua adalah aset pemerintah Amerika Serikat selain cadangan resmi (baris 11). Komponen ini memperlihatkan pinjamam baru dan pembayaran kembali pinjaman yang melibatkan pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah negara lain. Apabila Amertika Serikat memberikan pinjaman atau melakukan pem-bayaran utang, maka penawaran terhadap Amerika Serikat akan bertambah. Sebaliknya, pembayaran utang negara lain ke Amerika Serikat atau penambahan utang luar negeri Amerika Serikat akan meningkatkan permintaan terhadap US$. Sama seperti cadangan pemerintah/resmi, besarnya nilai aset pemerintah Amerika Serikat di luar cadangan resmi ini akan ditentukan oleh kebijakan pemerintah Amerika Serikat dalam mempengaruhi nilai tukar US$.
Kompnen ketiga adalah aset privat Amerika Serikat di luar negeri (baris 12). Komponen ini menunjukkan besarnya aset perusahaan-perusahaan swasta dan penduduk Amerika Serikat di luar negeri. Besar nilai aset akan ditentukan oleh:

1. Investasi langsung (baris 13). Per definisi, suatu investasi digolongkan sebagai investasi langsung jika perusahaan atau penduduk Amerika Serikat memiliki kontrol yang cukup terhadap investasinya di luar Amerika Serikat. Batasan kontrol yang cukup ditetapkan minimal 10% dari total kepemilikan. Keputusan untuk melakukan investasi asing langsung secara rasional akan ditentukan oleh perbandingan tingkat pengembalian dan risiko investasi di negara tujuan dan di Amerika Serikat. Penambahan investasi asing langsung akan meningkatkan penawaran US$, dan begitu pula sebaliknya.

2. Sekuritas asing. Subkomponen ini (baris 14) menunjukkan penawaran dan permintaan terhadap US$ dari pembelian atau penjualan saham dan obligasi asing oleh perusahaan atau penduduk Amerika Serikat. Penambahan pembelian sekuritas asing akan meningkatkan penawaran US$, sehingga berimplikasi menurunkan nilai tukar US$, ceteris paribus. Besarnya investasi pada sekuritas asing tergantung pada perbedaan tingkat keuntungan yang diharapkan dan risiko dari sekuritas asing dan domestik.

3. Pinjaman jangka pendek luar negeri. Baris 15 menyajikan pinjaman perusahaan nonbank, termasuk kredit yang diberikan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dalam transaksi dagang. Peningkatan jumlah pinjaman atau kredit oleh perusahaan Amerika Serikat akan meningkatkan penawaran terhadap US$, sehingga pencatatannya diberi tanda negatif. Sebaliknya, pengurangan pinjaman akan meningkatkan permintaan terhadap US$. Baris 16 menunjukkan pinjaman luar negeri oleh bank-bank Amerika Serikat. Implikasi perubahan pinjaman luar oleh bank Amerika Serikat, sama dengan pinjaman oleh perusahaan nonbank.


Aset Asing Neto di Amerika Serikat (Net Foreign Assets in the US)

Rekening aset asing neto di Amerika Serikat menunjukkan penawaran dan permintaan terhadap US$ karena aktivitas meminjam dana, meminjamkan dana, dan investasi oleh orang asing di Amerika Serikat. Jadi rekening ini merupakan kebalikan dari rekening aset Amerika Serikat neto di luar negeri. Berikut penjelasan komponen-komponen yang menentukan besarnya aset asing neto di Amerika Serikat.
Komponen pertama adalah aset resmi pemerintah asing (baris18), menyajikan peningkatan atau penurunan nilai aset asing yang disimpan di Amerika Serikat. Faktor utama yang menentukan besarnya aset resmi asing adalah komitmen pemerintah asing untuk menjaga kestabilan nilai tukar mata uangnya terhadap US$. Motivasi ini juga menjadi penentu besarnya komponen yang kedua, yaitu nilai aset asing lain di luar aset resmi Amerika Serikat (baris 19).
Baris 20 menunjukkan besarnya investasi asing langsung di Amerika Serikat. Sama seperti investasi langsung Amerika Serikat di luar negeri, investasi langsung di Amerika Serikat juga ditentukan oleh perbandingan tingkat keuntungan yang diharapkan dan risiko investasi di negara asal investor dan di Amerika Serikat. Pada Tabel 3.1 terlihat ada permintaan terhadap US$ sebesar 11,58 milyar karena investasi asing langsung ke Amerika Serikat.

Baris 21 menunjukkan pembelian sekuritas Amerika Serikat oleh investor asing yang nilainya positif jika ada peningkatan investasi dalam sekuritas Amerika Serikat dan negatif jika investor asing menjual sekuritas Amerika Serikatnya. Faktor utama yang mempengaruhi investasi asing pada saham, obligasi, dan sekuritas lainnya adalah ekspektasi tingkat keuntungan di Amerika Serikat dan di negara-negara lain di dunia, dan ekspektasi perubahan nilai tukar mata uang di masa yang akan datang.
Baris 22 menunjukkan bahwa kredit oleh lembaga nonbank tidak mempengaruhi permintaan dan penawaran terhadap US$. Akan tetapi, baris 23 memperlihatkan ada penawaran yang besar terhadap US$ yang bersumber dari kewajiban bank Amerika Serikat. Kewajiban bank Amerika Serikat terdiri dari simpanan orang asing di bank-bank Amerika Serikat. Terlihat bahwa simpanan tersebut diambil kembali selama periode pelaporan sehingga meningkatkan penawaran terhadap US$. Penarikan simpanan ini antara lain dapat disebabkan oleh karena adanya ketakutan penurunan nilai simpanan dalam US$ atau karena investor asing lebih senang menyimpan dananya dalam bentuk sekuritas Amerika Serikat.

Alokasi Special Drawing Rights (SDRs)
Pada baris 24 Tabel 3.1 dijumpai rekening alokasi SDRs. SDRs adalah cadangan yang diciptakan oleh IMF dan dialokasikan ke negara anggota IMF. Alokasi SDRs dicatat di IMF dalam rekening anggota yang memperoleh alokasi. Alokasi SDrs merupakan transfer unilateral IMF. Negara yang memperoleh alokasi SDRs mencatat alokasi tersebut sebagai masukan positif (meningkatkan permintaan terhadap mata uangnya).

Ketidaksesuaian Statistik (statistical dicrepancies)
Sampai tahun 1976, ketidaksesuaian statistik masih disebut kesalahan dan penghapusan (errors and omissions). Ketidaksesuaian timbul karena kesalahan dalam memperkirakan nilai pada masing-masing rekening di Tabel 3.1. Kesalahan mungkin timbul karena perbedaan antara waktu pencatatan ekspor dan impor barang dan jasa dan waktu pembayarannya. Sudah menjadi kebiasaan di Departemen Perdagangan Amerika Serikat untuk mengumpulkan data ekspor dan impor barang dan jasa dari bagian bea dan cukai. Data tersebut digunakan untuk menentukan besarnya nilai ekspor dan impor barang dan jasa. Sementara itu, pembayaran atas ekspor atau impor barang dan jasa tersebut terjadi setelahnya. Pembayaran ini akan dilaporkan di kemudian hari.
Alasan lain mengapa timbul kesalahan adalah karena faktor ketidaktepatan estimasi. Sebagai contoh, data pengeluaran wisatawan asing diperkirakan dengan menyebarkan daftar pertanyaan ke sejumlah wisatawan asing. Besarnya nilai pengeluaran wisatawan asing ditentukan dengan mengalikan rata-rata pengeluaran wisatawan asing (yang terpilih sebagai sampel) dengan total wisatawan asing yang akan mengunjungi Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, kesalahan pengukuran dapat disebabkan oleh adanya transaksi ilegal, di mana dengan demikian sistem pencatatan berpasangan tidak dapat diterapkan.
Besarnya ketidaksesuaian statistik akan ditentukan oleh selisih debet dan kredit neraca pembayaran. Di sini, nilai rekening ketidaksesuaian statistik digunakan kompensasi dari selisih tersebut sehingga neraca pembayaran akan selalu dalam posisi seimbang (sisi debet kreditnya). Pada Tabel 3.1 terlihat bahwa besarnya ketidaksesuaian statistik adalah US$ 4,1 miliar. Melihat angka tersebut dapat disimpulkan bahwa transaksi debet lebih besar US$ 4.1 miliar dari transaksi kredit (sebelum memasukkan nilai ketidaksesuaian statistik). Dengan memasukan nilai ketidaksesuaian statistik, maka selisih debet dan kredit tersebut dapat dihapuskan.

Implikasi Identitas Akuntansi Neraca Pembayaran

Interprestasi Rekening dengan Fixed dan Flexible Rates

Bagian ini akan menjelaskan mengapa suatu negara dapat menjalankan transaksi berjalan yang defisit, dengan menggunakan persamaan identitas akuntansi berikut ini :

Bc + dR + Bk + e = 0

Keterangan :
Bc = transaksi berjalan yang merupakan penjumlahan nilai baris 1,4,7 dan 8
Dalam tabel 3.1.
DR = perubahan dalam cadangan resmi pemerintah domestik (dalam contoh
pembahasan adalah pemerintah Amerika Serikat) dan pemerintah asing,
yakni penjumlahan nilai baris 10 dan 18.
Bk = jumlah rekening-rekening lain dalam neraca pembayaran, kecuali
ketidaksesuaian statistik, yakni penjumlahan nilai baris 11,12,19, dan 24.
Bk adalah neraca modal (capital account). Bk adalah hasil bersih dari
semua kegiatan pinajam-meminjam, investasi-divestasi, yang dilakukan
oleh perusahaan-perusahaan nonbank, bank dan individu.
e = ketidaksesuaian statistik.

Secara ringkas

Bc = keseimbangan transaksi berjalan (balance on current account).
Dr = perubahan pada cadangan resmi pemerintah (changes in official reserves).
Bk = keseimbangan neraca modal (balance on capital account)
e = ketidaksesuaian statistik (statistical discrepancy).

Persamaan 3.8 merupakan identitas fundamental dari neraca pembayaran. Berikut dijelaskan implikasi dari identitas tersebut jika yang digunakan adalah nilai tukar tetap (fixed exchange rate) atau nilai tukar fleksibel (flexible exchange rate).





Nilai Tukar Fleksibel

Apabila nilai tukar ditetapkan benar-benar fleksibel, maka pemerintah tidak perlu ikut campur tangan dalam penentuan nilai tukar. Dengan demikian, dR tidak akan ada dalam neraca pembaayaran (dR = 0). Hal ini karena pemerintah tidak perlu membeli atau menjual mata uang dan emas. Jadi pada kondisi nilai tukar fleksibel, persamaan 3.10 dapat disederhanakan menjadi:

Bc + Bk + e = 0

Apabila diasumsikan tidak terdapat ketidaksesuaian statistik, maka persamaan 3.9 dapat diringkas lagi menjadi:

Bc = - Bk

Persamaan 3.10 menunjukkan bahwa dengan nilai tukar fleksibel, defisit/surplus pada transaksi berjalan yang telah terkoreksi akan benar-benar sama dengan surplus/defisit pada neraca modal yang telah terkoreksi. Dalam hal ini ada dua pemikiran yang berbeda dalam menginterprestasikan persamaan 3.10 .
Pemikiran pertama menyatakan bahwa arah sebab-akibat bergerak dari transaksi berjalan ke neraca modal. Adanya defisit pada transaksi berjalan karena impor lebih besar dari ekspor, akan mendorong negara memperbanyak pinjaman luar negeri atau menjual asetnya.
Pemikiran kedua menyatakan bahwa arah sebab-akibat bergerak dari neraca modal ke transaksi berjalan. Defisit pada transaksi berjalan timbul karena impor modal. Adanya peningkatan permintaan terhadap US$ karena pembelian sekuritas Amerika Serikat oleh pihak asing akan meningkatkan nilai tukar US$. Peningkatan nilai tukar US$ akan menurunkan daya saing produk ekspor Amerika Serikat karena menjadi relatif lebih mahal, ceteris paribus. Akibatnya ekspor Amerika Serikat turun dan impor Amerika Serikat naik, sehingga menimbulkan defisit pada transaksi berjalan.

Nilai Tukar Tetap

Apabila nilai tukar bersifat tetap, maka akan ada campur tangan pemerintah dalam penentuan nilai tukar mata uangnya. Dengan demikian, pada neraca pembayaran akan terdapat dR. Pada kondisi ini, persamaan 3.8 dapat disederhanakan menjadi seperti berikut (diasumsikan bahwa transaksi berjalan dan neraca modal telah terkoreksi dan tidak ada ketidaksamaan statistik):

dR = - (Bc + Bk)

Persamaan 3.11 menunjukkan bahwa apabila nilai tukar bersifat tetap, sebagaimana yang diberlakukan pada kebanyakan mata uang selama era Bretton woods (1944-1973), maka peningkatan/penurunan cadangan resmi pemerintah akan sama dengan surplus/defisit gabungan neto pada transaksi berjalan dan neraca modal. Hal ini dimungkinkan terjadi karena pemerintah akan selalu berusaha menajaga nilai tukar mata uangnya pada tingkat yang telah ditentukan.
Apabila terjadi defisit pada transaksi berjalan dan neraca modal, yang berarti ada kelebihan penawaran mata uang, maka pemerintah akan menyerap kelebihan tersebut dengan membeli mata uangnya sendiri sebesar kelebihan tersebut. Sebaliknya jika terdapat surplus pada transaksi berjalan dan neraca modal, yang berarti ada kelebihan permintaan mata uang, maka pemerintah akan menyerap kelebihan permintaan tersebut dengan menjual mata uangnya sendiri sebesar kelebihan tersebut.
Melalui kebijakan ini, nilai tukar mata uang akan selalu terjaga pada tingkat yang ditentukan pemerintah.

Implikasi Jangka Panjang dan Jangka Pendek dari Ketidakseimbangan Neraca Pembayaran


Nilai Tukar Fleksibel
Apabila Bc + Bk = 0, tetapi Bc besar dan negatif, dan Bk besar dan positif, maka kondisi ini dapat menempatkan pemerintah dalam posisi yang sulit di masa yang akan datang. Hal ini karena dengan kondisi di atas berarti pemerintah menutup defisit transaksi berjalan dengan utang luar negeri atau melakukan divestasi terhadap investasi yang telah dilakukan. Pengadaan utang luar negeri akan meningkatkan impor debt service (dalam bentuk pembayaran bunga) dan divestasi akan mengurangi ekspor debt service (dalam bentuk penerimaan bunga, sewa, atau dividen). Dalam jangka pendek kebijakan ini memang belum terasakan akibatnya, tetapi dalam jangka panjang, kebijakan tersebut justru akan semakin memperburuk kondisi transaksi berjalan (semakin memperbesar defisit).

Nilai Tukar Tetap
Apabila Bc + dR + Bk = 0, dengan Bc + Bk negatif dan dR positif, berarti pemerintah membeli mata uangnya untuk menutup kelebihan penawaran. Pemerintah membeli mata uangnya dengan menjual cadangan emas dan valuta asing yang dimiliki. Hal ini dapat berlangsung dalam jangka pendek, sepanjang pemerintah memiliki cadangan yang cukup besar. Akan tetapi, jika cadangan resmi pemerintah habis dan kondisi di atas tetap terjadi, maka pemerintah harus meminjam ke negara lain untuk mengisi kekosongan cadangannya. Tindakan ini akan meningkatkan impor debt service, yang akan membuat transaksi berjalan semakin defisit. Apabila hal ini terus berlangsung, maka pemerintah akan terjerat dalam utang luar negeri yang semakin besar.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik satu kesimpulan penting, yaitu jika defisit transaksi berjalan terus berlangsung, pemerintah akan terjerat dalam utang luar negeri yang semakin besar. Dalam kasus nilai tukar tetap, pemerintah dapat memakai cadangan yang dimiliki terlebih dahulu. Tetapi hal ini tidak dapat berlangsung terus-menerus.

Mengatasi Defisit Transaksi Berjalan

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi defisit transaksi berjalan, antara lain: mengadakan devaluasi, proteksionisme, mengakhiri kepemilikan asing atas aset domestik, dan menaikkan tingkat bunga tabungan.

Depresiasi Mata Uang

Mata uang yang overvalued memberikan dampak yang sama dengan pajak atas ekspor dan subsidi atas impor, yang akan menurunkan jumlah ekspor dan meningkatkan impor. Akhirnya, jika suatu negara mengalami mata uang overvalued, maka negara tersebut akan mengalami defisit neraca perdagangan. Dengan mengembalikan nilai mata uang ke posisi ekuilibriumnya, defisit neraca perdagangan dapat dikurangi.

Banyak akademisi, politisi dan ahli ekonomi percaya bahwa devaluasi dapat mengurangi defisit neraca perdagangan dalam sistem kurs mengambang. Caranya dengan mengadakan penyesuaian harga nominal secara perlahan, yang mengubah perubahan kurs nominal ke perubahan dalam kurs riil (disesuaikan dengan inflasi). Pandangan seperti ini menunjukkan adanya hubungan sistematis antara kurs dan keseimbangan transaksi berjalan. Sebagai contoh, defisit neraca perdagangan, menurut pandangan pendapat ini, dapat dikurangi secara perlahan dengan penurunan nilai mata uang negara bersangkutan.
Sebaliknya, setiap tindakan untuk mengubah kurs bertujuan menyeimbangkan penawaran dan permintaan mata uang, dan tidak menyelesaikan distribusi mata uang antar arus perdagangan (neraca transaksi berjalan) dan arus modal (neraca modal). Pandangan ini menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan sederhana antara kurs dan transaksi berjalan. Defisit neraca perdagangan tidak “menyebabkan” depresiasi mata uang. Begitu pula depresiasi mata uang tidak membantu mengurangi defisit neraca perdagangan. Baik perubahan kurs maupun neraca perdagangan dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi yang lebih mendasar.
Untuk contoh kasus, kita lihat pengalaman yang dialami Amerika Serikat. Pada tahun 1976 sampai dengan 1980, nilai dolar menurun bersamaan dengan defisit transaksi berjalan Amerika Serikat. Namun pada tahun 1980 sampai 1985, dolar kembali menguat, tetapi transaksi berjalan semakin memburuk. Banyak analis menghubungkan defisit transaksi berjalan Amerika Serikat yang semakin memburuk pada awal tahun 1980-an dengan peningkatan tajam nilai dolar Amerika Serikat selama periode tersebut. Naiknya dolar secara tajam terhadap mata uang negara lain menyebabkan harga barang di Amerika Serikat naik secara relatif terhadap negara lain sehingga Amerika Serikat akan membeli lebih banyak barang dari luar negeri daripada luar negeri membeli dari Amerika Serikat. Selanjutnya, pada awal Maret 1985, nilai dolar kembali menurun namun defisit neraca perdagangan semakin memburuk. Mengapa pendapat analis ekonomi yang disebut terdahulu tidak terjadi? Ini dapat dijelaskan dengan teori kurva J. Teori kurva J (J-curve theory) menyatakan bahwa defisit neraca perdagangan suatu negara akan memburuk pada saat depresiasi mulai dilakukan karena harga barang impor yang lebih tinggi akan menutupi penurunan volume impor sehingga total impor tetap tinggi. Kemudian secara perlahan, lebih dari 6 bulan tetapi kurang dari setahun, defisit neraca perdagangan akan berkurang, dan kemudian diikuti dengan surplus neraca perdagangan. Bentuk kurva-J dapat dilihat pada Gambar 3.1.




Surplus
+ Neraca perdagangan

0 waktu

-
defisit
Gambar 3.1 Kurva - J

Dengan adanya efek kurva-J, penurunan nilai mata uang tidak secara langsung memberikan pengaruh pada neraca perdagangan. Karena itu, setiap kebijakan moneter yang berhubungan dengan perubahan nilai mata uang, baru akan terasa efeknya setelah jangka waktu lebih dari setengah tahun, namun tidak lebih dari satu tahun.

Proteksionisme
Respon lain terhadap defisit transaksi berjalan adalah proteksionisme, melalui peningkatan tarif, kuota dan bentuk kendala impor lainnya. Tarif merupakan pajak yang dikenakan ke produk asing yang dijual di dalam negeri. Tujuannya adalah untuk menaikkan harga barang asing. Kuota adalah pembatasan relatif terhadap permintaan, kuota menyebabkan harga barang luar negeri naik.

Proteksi lain yang bisa dilakukan antara lain, argumen industri bayi (infant industry argument), persyaratan kandungan lokal (local content requirement), dan pengendalian ekspor sukarela (voluntary export restraint).

Mengakhiri Kepemilikan Asing Atas Aset Domestik
Salah satu pendekatan untuk menghilangkan defisit transaksi berjalan adalah dengan melarang orang asing memiliki aset domestik. Jika orang asing dilarang memiliki aset domestik maka mereka akan mengekspor sebanyak yang akan mereka impor, sehingga tidak terjadi arus masuk maupun keluar. Keseimbangan dalam neraca perdagangan akan terjadi.

Meningkatkan Suku Bunga Tabungan
Rendahnya tingkat bunga cenderung menyebabkan defisit transaksi berjalan. Karena itu, untuk mengurangi defisit transaksi berjalan dapat dilakukan dengan menaikkan tingkat bunga tabungan. Dengan naiknya tingkat bunga tabungan, masyarakat akan lebih menyukai menanamkan uangnya dalma bentuk tabungan di bank, jika faktor-faktor lain dianggap tetap. Dari persamaan yang kita pelajari terdahulu, bahwa jika tabungan lebih besar daripada investasi maka ekspor akan melebihi impor (persamaan 3.5) sehingga defisit neraca perdagangan akan berkurang.



Tabel 3.3 Hubungan Antara Aktivitas Ekonomi Nasional dengan Neraca Pembayaran:
Idebtitas Dasar

Produk Nasional (Y) dikurangi pengeluaran untuk konsumsi Pengeluaran Total (E) dikurangi pengeluaran untuk konsumsi
= Tabungan Nasional (S)

= investasi asing neto, atau peningkatan neto dalam pemberian pinjaman ke luar begeri dan aset cadangan ofisial, seperti emas (If)

Produk Nasional (Y)

Dikurangi pengeluaran untuk barang dan jasa dalam negeri

= Ekspor barang dan jasa (X)
= keseimbangan dalam transaksi berjalan
- investasi dalam aset riil baru (Id)






Pengeluaran Total (E)

- dikurangi pengeluaran untuk barang dan Jasa dalam negeri

- Impor barang dan jasa (M)

- (keseimbangan dalam neraca modal dan rekening cadangan)


Y – E = S – Id = X – M = If

Kesimpulan: sebuah negara yang menghasilkan melebihi pengeluarannya akan menabung lebih banyak daripada berinvestasi, ekspor melebihi impor, dan menyebabkan aliran keluar modal domestik. Sebuah negara yang membelanjakan lebih banyak daripada yang diproduksi akan melakukan investasi lebih banyak daripada tabungannya, mengimpor lebih banyak daripada mengekspor, dan menyebabkan aliran masuk modal luar negeri.
Identitas tersebut sangat penting karena dapat membantu kita untuk menaksir solusi yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan transaksi berjalan. Suatu negara tidak dapat mengurangi defisit transaksi berjalan atau menambah surplus transaksi berjalan tanpa memenuhi dua kondisi berikut:
1. Meningkatkan produk nasional relatif terhadap pengeluaran nasional
2. Meningkatkan tabungan relatif terhadap investasi domestik
Identitas akuntansi ini juga menggambarkan bahwa surplus transaksi berjalan suatu negara bukan merupakan suatu tanda bahwa perekonomian negara tersebut kuat, atau jika suatu negara mengalami defisit bukan berarti perekonomian negara tersebut lemah. Sebagai contoh, Amerika Serikat sejak tahun 1983 mengalami defisit transaksi berjalan, namun bukan berarti perekonomian negara Amerika Serikat lemah. Selama tahun 1980-an Amerika Latin mengalami surplus transaksi berjalan, padahal perekonomian Amerika Latin saat itu kurang begitu stabil.



Lembaga-lembaga Pengatur Aliran Dana Internasional

Berbagai macam lembaga didirikan untuk memudahkan transaksi keuangan dan perdagangan internasional. Lembaga-lembaga ini sering kali mewakili sekelompok negara. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat beberapa lembaga penting yang mengatur aliran dana internasional.

Dana Moneter Internasional (International Monetery Fund)
Pembentukan Dana Moneter Internasional (IMF) adalah hasil dari konferensi keuangan dan moneter yang dilakukan di Bretton Woods, New Hampshire pada bulan Juli 1944. Tujuan utama IMF seperti yang diterapkan dalam piagam perjanjian adalah untuk mengembangkan kerjasama antar negara dalam masalah moneter internasional, meningkatkan stabilitas kurs, menyediakan dana pinjaman jangka pendek bagi negara anggota untuk memperbaiki ketidakseimbangan neraca pembayaran, meningkatkan stabilitas kurs, menyediakan dana pinjaman jangka pendek bagi negara anggota untuk memperbaiki neraca pembayaran, meningkatkan mobilitas dana antar negara, dan mewujudkan perdagangan bebas. Secara garis besar tujuan IMF adalah untuk mendorong peningkatan internasionalisasi bisnis.
Sebelum tahun 1973, IMF berkonsentrasi pada tugas menjaga konvertibilitas mata uang negara anggotanya, dengan tujuan mendorong perdagangan internasional. Pada saat resesi tahun 1974-1975, IMF menawarkan rencana pendanaan kepada negara yang mengalami defisit neraca perdagangan.
Selama krisis utang internasional yang mencapai puncak bulan Agustus 1982, IMF menyediakan pembiayaan kepada negara-negara yang mengalami kesulitan dalam pembayaran cicilan dana bunga utang.
Salah satu tugas utana IMF adalah Compesantory Financing Facility (CFF) yang mencoba menurunkan dampak ketidakstabilan ekspor terhadap perekonomian suatu negara, khususnya negara berkembang. Permintaan terhadap pembiayaan CFF oleh negara berkembang sangat tinggi pada saat terjadi resesi dunia.
Setiap negara anggota memiliki kuota tersendiri jika ingin meminjam dana dari IMF. Jumlah kuota didasarkan pada status ekonomi suatu negara bersangkutan. Semakin tinggi status ekonomi suatu negara, semakin besar kuota negara tersebut relatif terhadap negara lain.
Ukuran pembiayaan yang dipergunakan oleh IMF dinamakan special drawing right (SDR). SDR bukan suatu jenis mata uang, melainkan hanya sebagai satuan hitung (unit of account). Nilai SDR berfluktuasi berdasarkan nilai lima mata uang utama, antara lain: dolar Amerika Serikat, mark Jerman, franc Perancis, yen Jepang, dan pound Inggris. Proporsi masing-masing mata uang didasarkan pada seberapa penting mata uang tersebut di pasar internasional. Persentase masing-masing mata uang adalah 42% dolar Amerika Serikat, 19% pound Inggris, dan sisanya merupakan persentase ketiga mata uang lainnya (masing-masing 13%).
Jika dinilai secara objektif, sebenarnya IMF tidak terlalu berhasil dalam mengemban misi pendiriannya. Dari sekitar 140 negara yang telah menerima bantuan dana IMF selama periode 1965-1997, hanya kurang lebih 35 negara saja yang mampu melunasi pinjamannya, dan sekitar 40 negara telah menerima bantuan IMF selama lebih dari dua puluh tahun. Meskipun demikian, tidak dapat disangkal bahwa sampai saat ini IMF tetap memiliki peranan penting dalam percaturan perekonomian dunia. IMF bahkan memainkan peran sentral dalam upaya penyelesaian krisis di Meksiko tahun 1995 dan krisis di Asia tahun 1997.

Krisis di Meksiko Tahun 1995
Krisis moneter di Meksiko diawali dengan terjadinya penurunan nilai mata uang Meksiko, peso, secara dramatis sebesar 40% terhadap US$. Keadaan ini diperparah dengan jatuhnya harga-harga saham di bursa efek Meksiko yang mengakibatkan indeks terpangkas sebesar 50%. Kejadian ini tentu saja membuat was-was para investor asing yang menanamkan dananya di Meksiko. Sebagai contoh, pemodal Amerika Serikat yang bermain saham di bursa efek mengalami kerugian 70% dari seluruh investasi sahamnya di Meksiko.
Kejadian di atas sungguh di luar dugaan para investor karena selama dekade 1980-an sampai awal dekade 1990-an, perekonomian Meksiko mengalami kemajuan yang cukup pesat sebagai hasil dari upaya pemerintah meliberalisasikan perekonomian Meksiko. Pemerintah Meksiko telah memangkas atau bahkan menghilangkan hambatan-hambatan bagi pemodal asing untuk menanamkan dananya di Meksiko. Meksiko juga menjadi anggota NAFTA (North American Free Trade Agreement) bersama dengan Amerika Serikat dan Kanada.
Apabila ditilik lebih jauh, krisis di Meksiko sebenarnya merupakan krisis kelangkaan likuiditas jangka pendek. Masalah ini antara lain dipicu oleh kebijakan pemerintah yang ingin mempertahankan nilai peso di pasar uang internasional, dan karena kebijakan pemerintah mengganti utang jangka pendek dengan sekuritas jangka pendek sejenis, yang disebut tesebonos, yang nilainya dikaitkan dengan nilai US$. Akibatnya cadangan devisa Meksiko terkuras dari US$ 23 milyar pada awal 1994 menjadi hanya US$ 40 milyar. Dengan pasokan likuiditas ini, perekonomian Meksiko mulai bangkit dan secara perlahan keluar dari krisis yang membelenggunya.

Krisis di Asia Tahun 1997
Krisis moneter di Asia sering diibaratkan sebagai suatu penyakit menular, yang menjalar dari satu negara ke negara lain. Rentetan krisis diawali dengan jatuhnya nilai bath Thailand terhadap US$ sebagai dampak dari aksi para spekulan valuta asing yang menyerbu bath. Jatuhnya bath dengan cepat juga diikuti dengan terpangkasnya indeks harga saham di lantai bursa pada paruh kedua 1997. Pada akhir 1997, nilai bath dan indeks harga saham hanya tinggal sekitar 50% dari nilai sebelum krisis. Krisis di Thailand dengan cepat merembet ke negara tetangganya, Indonesia. Memasuki paruh kedua 1997, rupiah mengalami nasib yang sama dengan bath, nilai rupiah terhadap US$ terus merosot dan pada akhir januari 1998, nilai rupiah jatuh lebih dari 75% terhadap US$. Indeks harga saham juga terpangkas sekitar 33% pada akhir 1997.




Krisis di Thailand dan di Indonesia secara garis besar disebabkan oleh faktor-faktor yang sama, yaitu:
1. Thailand dan Indonesia masih menganut sistem pengaturan kurs mengambang terkendali. Pemerintah akan mengintervensi pasar jika nilai mata uang jatuh atau naik melebihi level yang diinginkan. Pada saat bath dan rupiah diserbu para spekulan valuta asing, pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan nilai mata uang. Kebijakan ini dengan cepat sekali menguras cadangan devisa kedua negara. Menyadari bahwa pasar tidak mungkin dilawan, akhirnya sistem mengambang terkendali diganti menjadi mengambang bebas.
2. Thailand dan Indonesia mengalami defisit neraca berjalan yang sangat besar.
3. Thailand dan Indonesia mempunyai utang jangka pendek dalam mata uang US$ yang sangat besar yang sebgaian besar digunakan untuk keperluan yang bersifat spekulatif.
Setelah menyerang Thailand dan Indonesia, krisis menular ke Korea. Perekonomian Korea juga mempunyai permasalahan yang hampir sama dengan Thailand dan Indonesia. Korea memiliki defisit neraca berjalan yang besar, utang dalam mata uang US$ dalam jumlah besar, dan pengaturan nilai mata uang won menggunakan perekonomian Korea mempunyai ketahanan yang lebih baik. Sebagian besar utang US$ Korea ditanamkan dalam industri berorientasi ekspor. Meskipun demikian, nilai won tetap terkikis sekitar 45% hanya dalam kurun waktu Oktober sampai Desember 1997. Pasar modal Korea juga terpuruk. Harga-harga saham jatuh lebih dari 50%.
IMF mempunyai andil cukup besar dalam upaya mengatasi di Asia. Dengan didukung oleh Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Jepang, IMF menawarkan paket penyelamatan sebesar US$ 17 milyar kepada Thailand. Paket bantuan ini diberikan dengan syarat negara penerima bantuan harus melakukan reformasi dalam bidang ekonomi yang meliputi:
1. Liberalisasi pasar keuangan
2. Reformasi struktural untuk meningkatkan persaingan, efisiensi, dan transparansi
3. Pengendalian fiskal dan moneter
Paket bantuan IMF ini mampu menyelamatkan perekonomian Thailand dan Korea dari keterpurukan lebih lanjut. Saat ini Thailand dan Korea telah menikmati pertumbuhan ekonomi dan mulai lepas dari bayang-bayang krisis ekonomi. Sementara itu, Indonesia tampaknya masih membutuhkan waktu yang lebih lama karena krisis moneter telah berubah menjadi krisis yang bersifat multidimensional.

Bank Dunia (World Bank)
Bank Dunia juga dikenal dengan nama International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), didirikan pada tahun 1944. Tujuan utama lembaga ini adalah untuk memberikan pinjaman kepada negara-negara dalam kaitannya dengan peningkatan pembangunan ekonomi. Sumber dana utama diperoleh dari penjualan obligasi dan instrumen utang lainnya kepada investor dan pemerintah. Lembaga ini juga bertujuan mencari keuntungan. Karena itu, pinjaman yang diberikan tidak berupa subsidi, tetapi dikenai beban bunga sebesar bunga yang berlaku di pasar.
Sampai saat ini Bank Dunia masih menitikberatkan pada pembiayaan proyek yang akan dilakukan oleh suatu negara dengan maksud untuk mendorong produktivitas ekonomi negara bersangkutan. Salah satu fasilitas utama Bank Dunia adalah Structural Adjusment Loan (SAL), yang didirikan pada tahun 1980. SAL bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara. Sebagai contoh, SAL pernah diberikan kepada Turki dan beberapa negara sedang berkembang (LDC) yang berusaha meningkatkan dan memperbaiki neraca perdagangan mereka.
Karena dana yang dimiliki oleh Bank Dunia sangat terbatas, sedangkan negara berkembang yang memerlukan bantuan dana sangat banyak, maka Bank dunia mencoba memperoleh dana dengan bekerja sama dengan lembaga lain, antara lain dengan:
1. Lembaga bantuan resmi (Official aid agencies) dalam membiayai proyek pembangunan di negara berpendapatan rendah (low-income countries)
2. Lembaga kredit ekspor (export credit agencies) dalam membiayai proyek padat modal (capital-intensive projects)
3. Bank komersial untuk membiayai pembangunan sektor swasta. Dewasa ini, lebih dari 350 bank dari seluruh penjuru dunia berpartisipasi dalam pembiayaan ini.
Bank Dunia juga mendirikan suatu badan yang bernama Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA), yang menawarkan sejumlah asuransi risiko politik. Lembaga tambahan ini bertujuan mendorong pembangunan investasi dan perdagangan internasional.

International Financial Corporation (IFC)
IFC didirikan pada tahun 1956 dengan tujuan untuk membantu perkembangan perusahaan swasta di suatu negara. Seperti halnya IMF, lembaga ini terdiri dari sejumlah negara sebagai anggota. Tujuannya adalah meningkatkan pembangunan ekonomi melalui perkembangan perusahaan swasta. Selain memberikan bantuan atau pinjaman, lembaga ini juga membeli saham dari pasar modal internasional sehingga tidak hanya bertindak sebagai kreditor, tetapi juga sebagai pemilik modal. IFC menyediakan 10% sampai 15% kebutuhan dana untuk proyek swasta.
Bulan Juli 1987 IFC menawarkan bentuk pinjaman baru. Peminjam yang meminjam dengan tingkat bunga tetap dapat menyesuaikan suku bunga pinjaman dengan suku bunga pasar yang berlaku, setiap lima tahun. Pada tahun yang kelima, peminjam dapat memilih tingkat bunga variabel dan dapat mengubah pinjamannya ke mata uang tertentu. Pinjaman tersedia dalam mata uang dolar Amerika Serikat, mark Jerman, franc Swiss, pound Inggris, dan franc Perancis.

International Development Association (IDA)
IDA didirikan pada tahun 1960, dengan tujuan pembangunan ekonomi, sama dengan Bank Dunia. IDA memberikan pinjaman dengan tingkat bunga rendah kepada negara miskin yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia.

Bank of International Settlements (BIS)
BIS bertugas memudahkan kerjasama antar negara dalam hal transaksi internasional. Lembaga ini juga menyediakan bantuan kepada negara yang mengalami krisis keuangan. BIS kadang kala disebut sebagai “bank sentral dari seluruh bank sentral di dunia” atau “leader of last resort”. Lembaga ini memainkan peran yang penting dalam mendukung pembangunan ekonomi negara berkembang selama krisis utang internasional pada awal dan pertengahan 1980-an.

Lembaga-lembaga Pembangunan Regional (Regional Development Agencies)
Terdapat sejumlah lembaga regional yang bertujuan mendorong pembangunan ekonomi kawasannya. Antara lain. Inter-American Development Bank (memfokuskan pada negara Amerika Latin), Asian Development Bank (didirikan untuk meningkatkan pembangunan sosial dan ekonomi di Asia), dan African Development Fund (memfokuskan pada pembangunan negara-negara di Afrika).
Pada tahun 1990, Bank Pembangunan dan Rekonstruksi Eropa (European Bank for Reconstruction and Development) didirikan untuk membantu negara komunis yang ingin beralih ke sistem kapitalis.

Rangkuman
Neraca pembayaran memuat aliran pembayaran antara residen suatu negara dengan luar negeri selama periode tertentu. Setiap pencatatan yang menyebabkan peningkatan permintaan mata uang domestik, seperti ekspor dan penjualan aset, dicatat dengan tanda positif. Sedangkan setiap pencatatan yang menyebabkan peningkatan penawaran mata uang domestik, akan dicatat dengan tanda negatif. Karena itu, kita dapat menganggap neraca pembayaran sebagai catatan permintaan dan penawaran mata uang suatu negara.
Pencatatan neraca pembayaran didasarkan pada sistem pencatatan berpasangan (double-entry bookkeeping). Karena itu, setiap pencatatan harus diikuti dengan pencatatan di sisi lainnya, dan total nominal harus seimbang. Bagaimana keseimbangan itu terjadi? Setiap kecenderungan peningkatan transaksi yang bernilai positif, seperti ekspor yang lebih tinggi atau peningkatan penjualan obligasi ke luar negeri, akan menyebabkan nilai mata uang negara bersangkutan meningkat.
Transaksi yang menyebabkan neraca pembayaran bertanda positif, antara lain pembelian barang, jasa, goodwill, aset riil, emas, dan mata uang asing oleh masyarakat luar negeri. Transaksi yang menimbulkan tanda negatif, seperti pembelian oleh masyarakat dalam negeri terhadap barang luar negeri.
Teori ekonomi mengindikasikan bahwa defisit transaksi berjalan merupakan fenomena makro ekonomi. Dalam identitas akuntansi dasar dinyatakan bahwa defisit transaski berjalan suatu negara menggambarkan kelebihan pengeluaran domestik. Defisit transaksi berjalan sama dengan kelebihan investasi domestik terhadap tabungan domestik. Dengan memasukkan peran serta pemerintah dalam identitas akuntansi dasar, terlihat bahwa keseimbangan pengeluaran domestik sama dengan keseimbangan investasi tabungan swasta dikurangi defisit anggaran pemerintah.
Transaksi berjalan meliputi perdagangan barang dan jasa, pendapatan neto, dan transfer unilateral. Dalam transaksi berjalan terdapat komponen perdagangan barang yang biasanya dikenal dengan neraca perdagangan. Neraca perdagangan melukiskan selisih antara ekspor barang dan impor barang. Apabila ekspor lebih besar dari impor, terjadi surplus neraca perdagangan. Sebaliknya, jika impor melebihi ekspor, akan terjadi defisit neraca perdagangan. Jasa tidak hanya mencakup performed serviced, tetapi juga debt services (pembayaran dividen dan bunga).
Defisit transaksi berjalan dapat diatasi dengan mata uang, proteksionisme, mengakhiri pemilikan asing atas aset domestik, dan menaikkan tingkat bunga. Depresiasi atau devaluasi baru akan mempengaruhi transaksi berjalan dalam jangka waktu setengah sampai satu tahun. Efek yang ditimbulkan oleh depresiasi atau devaluasi terhadap transaksi berjalan dapat dilihat dari kurva-J (J-curve).
Untuk memudahkan transaksi keuangan dan perdagangan internasional, banyak lembaga telah didirikan, antara lain Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, International Financial Corporation, International Development Association (IDA), Bank of International Settlements (BIS), dan lembaga-lembaga Pembangunan Regional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar